HARI AIR DUNIA 2011 KENDURI AIR (Pray For Water) : Kearifan Lokal Masyarakat Kepri terhadap Air


Oleh : Hj. R. Syahniar Usman

Ketua Umum Lembaga Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepri

Latar belakang HAD

Air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dalam segala bidang.  Dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras.

Pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antarwilayah, antarsektor, dan antargenerasi dan bahkan antar negara. Sejalan dengan era globalisasi dan pemanasan global (global warming) dan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka masyarakat dunia termasuk Indonesia perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air. Salah satu peran itu adalah keterlibatan kita pada Peringatan Hari Air Dunia ke XIX tahun 2011, 22 Maret. Dimanapun dan apapun kita. Terlebih saat ini bumi kita sudah semakin rapuh dan bencana demi bencana yang berkaitan dengan air sudah banyak merenggut korban jiwa.

Adapaun tema yang disusung PBB pada Peringatan Hari Air Dunia 2011 ini adalah AIR DAN URBANISASI. Sedangkan tema nasional HAD 2011 adalah “Air Perkotaan dan Tantangannya”. Meskipun demikian, dengan tidak mengurangi substansi dari tema itu maka Lembaga ALIM mencoba merangkai sebuah sub tema tersendiri yakni “KENDURI AIR (Pray For Water), Kearifan Lokal Masyarakat Kepri terhadap Air”.

Kenduri Air (Pray for Water)

Kenduri Air bertujuan untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat Kepri yang tinggal di perkotaan untuk senantiasa peduli terhadap air dan bersyukur  atas karunia Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Kepedulian dan rasa syukur terhadap Air itu yang kemudian kami selaraskan dengan nilai-nilai budaya yang hidup didalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Mengapa Melayu, karena masyarakat asli Kepulauan Riau merupakan orang melayu yang beragama Islam.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa bumi melayu Kepuluan Riau telah dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah seperti sumber daya kelautan, energy dan sumber daya mineral seperti Gas, Minyak, Timah, Bauksit, Pasir, Granit, sumber daya lainnya seperti hutan, keindahan pantai dan sumber daya air. Orang Melayu adalah orang yang pandai bersyukur dan ramah terhadap alam, lingkungan hidup dan bersifat sangat terbuka kepada kaum pendatang dan dapat beradaptasi dengan suku apapun. Kearifan local Ini penting ditumbuh kembangkan ditengah lajunya arus migrasi yang masuk ke daerah ini. Jumlah penduduk pendatang terus meningkat dan mereka butuh air untuk hidup. Tidak peduli apakah mereka datang menetap atau hanya singgah saja, yang pasti mereka semua sama-sama memerlukan air. Melalui kearifan lokal itulah nantinya diharapkan penduduk lokal dan pendatang bersama-sama melestarikan sumber daya air di Kepri ini melalui kepedulian dan aksi tindak nyata. Dengan kata lain, menghemat air, tidak serakah dan tidak merusak sumber daya air yang ada di Kepri ini dengan dalil apapun, termasuk dalil agama, ekonomi, politik dan pembangunan.

Sejak Peringatan Hari Air Dunia 2010 yang lalu, ALIM menitik beratkan issu air yang dikaitkan dalam konteks agama (religi) dan budaya (cultural) dengan tetap mengacu kepada tema umum yang ditetapkan oleh PBB. KENDURI AIR  (Pray For Water) 2011 ini sudah kami daftarkan pada Event International yang dikelola oleh Lembaga Dunia dibawah naungan PBB yang bernama UN WATER. Alhamdulillah, Kenduri Air yang diorganisir LSM ALIM sudah tercatat bersama ratusan event air dalam rangka World Water Day 2011 tiap negara di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri sampai dengan tanggal 13 Maret 2011 kemaren, baru ada sembilan event air yang terdaftar di UN WATER dari berbagai daerah dan pemrakarsa. Delapan diantaranya berada di Pulau Jawa seperti event GrebegAir di Jokjakarta dan lain-lainnya dan satu di Sumatera yaitu di Kepri atas nama event Kenduri Air.

Kenduri Air 2010 yang lalu dilaksanakan di dekat Waduk Sei Pulai, tepatnya di IPA PDAM Tirta Kepri. Waktu itu semua Pimpinan Daerah yang berada di Pulau Bintan ini mulai dari Gubernur Kepri, Walikota Tanjungpinang dan Bupati Bintan, Forum Perangkat Daerah dan SKPD terkait termasuk PDAM, diundang. Seluruh biaya berasal dari dana ALIM sendiri. Tahun ini, mengingat keterbatasan anggaran,  ALIM akan melaksanakan Kenduri Air di salah satu Panti Asuhan di Tanjungpinang.

Bersama anak yatim piatu itu nantinya semua yang hadir  akan bermunajab, berdo’a dan memohon kepada Allah swt agar senantiasa diberikan karunia air bagi kesehatan dan derajat hidup yang lebih baik bagi kita semua. Dalam Al Quran dijelaskan, barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah, niscaya Allah akan menambah nikmat itu tetapi barang siapa yang tidak mensyukurinya atau kufur akan nikmat Allah, maka sesungguhnya siksa Allah amat pedih.

Kita tidak ingin Kepri menjadi daerah yang fakir karena warganya kesulitan mendapatkan air. Negeri Fakir adalah negeri yang tidak berair. Jangan sampai demkian. Dari perspektif  hukum ketatanegaraan Indonesia pun dijelaskan bahwa Sumber Daya air merupakan Karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat kesejahteraan bagi seluruh rakyat disegala bidang. Doktrin itu tercantum pada  pembukaan UU Sumber Daya Air  yaitu UU Nomor 7 Tahun 2004.

Selain Kenduri Air  yang akan kami tumbuhkembangkan, ada terdapat sejumlah petuah dan ritual yang berkaitan dengan air yang telah hidup didalam masyarakat melayu Kepulauan Riau sejak dulu seperti Beradap Mandi, Mandi Safar, Mandi Berlanger, Mandi Air Tujuh Perigi, Air Sulong, Jembalang Air, Mambang Air dan Air Jampi. Ada sejumlah peribahasa seperti “Menepok Air Di dulang, Terpecik Muka Sendiri”, “Air Susu dibalas Air Tuba”, “Tak Putus Air Dicencang”, “Jangan Disangka Air Tenang Tidak Ada Buayanya” dan lain sebagainya. Petuah dan Peribahasa orang melayu itu kirannya dapat dijadikan referensi untuk menggali dan mengkaji lebih dalam tentang budaya, tata cara dan tata kelola orang-orang melayu terhadap air dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Kenduri Air mendapat perhatian dari cendikiawan dan para budayawan maun seniman melayu serta masyarakat melayu.

Kenduri Air (Pray for Water) memang belum mendapatkan pengakuan khalayak ramai terutama dari kalangan orang-orang tua melayu, pemuka adat melayu dan lembaga adat melayu itu sendiri. Belum pernah dikaji secara mendalam, di diskusikan pada forum diskusi apalagi diseminarkan. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, secara pribadi, organisasi dan sebagai orang melayu yang tidak begitu banyak mengetahui akan adat resam melayu, penulis menghaturkan sepuluh jari memohon maaf atas segala kekurangan dan mohon koreksi serta tunjuk ajar supaya niat tulus untuk menumbuhkembangkan kearifan lokal dikalangan orang melayu, agar senantiasa pandai bersyukur dan melestarikan sumberdaya air di bumi betuah ini mendapat ridho dari Allah swt.

Air Jampi adalah salah satu kearifan local yang dilakukan orang tua-tua melayu ketika itu dalam memperlakukan air dengan bijaksana. Air Jampi adalah air putih, baik yang telah dimasak atau yang belum dimasak, dimasukan kedalam cangkir/gelas/baskom/ember/baki dll, lalu  dibacakan/dikumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an, do’a dan kemudian dipergunakan untuk diminum atau mandi, atau disemburkan ketubuh manusia atau kesuatu tempat untuk penyembuhan suatu penyakit, pisik maupun psikis. Tradisi itu diyakini masih berlangsung hingga hari ini. Begitulah orang melayu dalam memperlakukan air dalam kehidupan sehari-hari.

Ritual dan kearifan orang melayu itu ternyata diperkuat kebenarannya secara ilmiah oleh seorang peneliti Jepang yang bernama Massaro Amoto. Dia melakukan penelitian dengan menggunankan teleskop berkwalitas tinggi untuk melihat Kristal-kristal yang terkandung didalam air. Ternyata, Massaro menemukan Kristal-kristal air itu hidup dan dapat merespon perilku manusia. Ketia Ia mengumandangkan kata-kata yang baik seperti “I Love You”, Kristal-kristal air itu berubah menjadi warna indah keemasan. Tetapi ketika dikumandangkan kata-kata yang kurang baik seperti “Í Hate You”, Kristal air berubah menjadi hitam pekat dan mati. Coba banyangkan, bila kita kumandangkan kalam Allah, Allahu Akbar, tentu Kristal air itu meresponnya dengan baik. Jadi wajar bila air jampin itu diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena Allah yang menciptakan Air dan manusia berkuasa atas segala penyakit. Allah yang menyembuhkan penyakit. Secara pisik, Kristal air yang baik dan bersih, dapat melarutkan berbagai unsure zat yang menganggu peredaran darah dan lain sebagainya.

Migrasi, Air Perkotaan dan Tantangannya

Urbanisasi menurut definisinya adalah persentase penduduk perkotaan. Urbanisasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pertumbuhan alami penduduk daerah perkotaan, migrasi dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan, dan reklasifikasi desa perdesaan menjadi desa perkotaan. Pada tahun 2010, populasi penduduk dunia adalah sebanyak 6.8 Miliar dan pada tahun 2025 diperkirakan akan bertambah menjadi 8 Miliar. Dari jumlah penduduk dunia pada tahun 2010, Bank Dunia mencatat belum separuh dari jumlah penduduk dunia dapat mengakses air bersih dan sanitasi yang layak. Lebih dari 2 miliar orang atau sekitar 30 persen penduduk dunia yang tersebar di 40 negara mengalami permasalahan kekurangan air.

Di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 230 juta pada tahun 2010, rata-rata ketersediaan air di atas daratan Indonesia secara selintas nampaknya mencapai angka yang menenteramkan, namun demikian sebarannya di setiap wilayah dan di setiap waktu tidak merata. Pulau-pulau di Indonesia bagian Barat relatif lebih basah, sedangkan wilayah Timur sangat kurang hujan kecuali Papua. Di musim kemarau banyak wilayah yang mengalami kekurangan air, dan sebaliknya di musim hujan banyak wilayah yang mengalami banjir. Baik kekeringan maupun banjir, keduanya sangat mempengaruhi ketahanan pangan nasional.

Pertambahan jumlah penduduk yang sebarannya tidak merata  menjadi salah satu faktor penyebab ketimpangan neraca air di berbagai pulau. Jawa yang luasnya hanya 7 persen daratan Indonesia,  hanya tersedia sekitar 4,5 persen dari potensi air tawar nasional. Dilematisnya pulau ini harus menopang sekitar 65 persen jumlah penduduk Indonesia,” imbuh Djoko Kirmanto.

Beban pengelolaan sumber daya air di Indonesia yang akan dialami generasi mendatang kian berat, apabila seluruh pihak tidak memberikan perhatian yang lebih daripada yang telah pernah diakukan sebelumnya. Kesulitan air bersih dan pengelolaan sanitasi di Indonesia juga merupakan ancaman serius, khususnya bagi kondisi kesehatan masyarakat khususnya anak-anak. Hal ini dibuktikan dengan angka kematian bayi akibat diare yang hampir mencapai 100 ribu bayi per tahun.

Berdasarkan summary report Millenium Development Goal’s (MDG’s) pada 2007, menunjukkan, pada 2006 penduduk yang memiliki akses terhadap air minum yang aman mencapai 57,2 persen, akses prasarana air limbah rata-rata nasional 69,3 persen, pelayanan persampahan mencapai 54,42 persen dan luas genangan yang belum tertangani adalah seluas 23.923.981 Ha.

Memperhatikan berbagai permasalahan yang dihadapi, pemerintah dan masyarakat perlu secara terus menerus diingatkan akan permasalahan serius yang dihadapi bersama.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, penduduk Provinsi Kepri mencapai 1.685.698 jiwa. 864.333 di antaranya adalah laki-laki dan sisanya atau 821.365 perempuan.  Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepri mencapai 4,99 persen per tahun.

Tabel I.1

Jumlah Penduduk Provinsi Kepulauan Riau2010

No. Jenis Kelamin Jumlah(Jiwa) Pertumbuhan Penduduk Pertahun (Persen)
Laki-laki 864.333
Perempuan 821.365
Jumlah 1.685.698 4,99

Sumber data : Sensus Penduduk 2010

Grafik : Jumlah Penduduk Provinsi Kepulauan Riau

Berdasarkan Jenis Kelamin 2010

Sumber : Sensus Penduduk 2010

Arus migrasi dari kota lain di tanah air ke Provinsi Kepri menjadi salah satu motor pemicu laju pertumbuhan penduduk. Mereka yang bermigrasi ke Provinsi Kepri ini ialah usia muda. Saat datang bisa jadi belum menikah tetapi beberapa tahun kemudian mereka menikah dan memiliki keturunan. Semakin besarlah jumlah penduduk Kepri.

Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepri dan Kabupaten/Kota se-Kepri dapat dilihat pada table I.2 dibawah ini.

Tabel I.1

Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Penduduk

di Provinsi Kepulauan Riau 2010

No. Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk(Jiwa) Pertumbuhan PendudukPertahun (%)
1. Kota Batam 949.775 7,70
2. Kota Tanjungpinang 187.687 2,79
3. Kabupaten Bintan 142.382 2,63
4. Kabupaten Karimun 212.812 2,21
5. Kabupaten Natuna 69.319 2,79
6. Kabupaten Lingga 86,230 0,83
7. Kab, Kepulauan Anambas 37.493 2,80
Jumlah 1.685.698 4,99

Sumber data : Sensus Penduduk 2010

Berdasarkan table diatas, dari semua Kapubapten/Kota di Provinsi Kepri, Kota Batam memiliki jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk yang paling tinggi sedangkan Kabupaten Anambas memiliki jumlah penduduk yang paling sedikit dan Kabupaten Lingga dengan laju pertumbuhan penduduk paling kecil pertahun.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010,  penduduk kota Batam berjumlah 949.775 orang dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 7,70 persen per tahun. Kota Tanjungpinang berpenduduk 187.687 dengan laju pertumbuhan penduduk 2,79 persen per tahun. Penduduk Kabupaten Bintan sebanyak 142.382 orang dengan laju pertumbuhan 2,63 persen per tahun. Penduduk Kabupaten Karimun sebanyak 212.812 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,21 persen pertahun. Penduduk Kabupaten Natuna sebanyak 69.319 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,79 persen. Kabupaten Kepulauan Anambas berpenduduk 37.493 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,80 persen per tahun. Kabupaten Lingga berpenduduk sebanyak 86,230 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 0,80 persen pertahun.

Pantas bila Batam memiliki jumlah penduduk yang paling padat di Kepri yaitu sejumlah 56,34  persen, karena merupakan kawasan industri. Ada sekitar 26 kawasan industri dan ratusan pabrik berdiri di Batam yang hanya berjarak 20 kilometer dari Singapura. Kedekatan Kota Batam dengan Singapura itu menjadikan Batam yang memiliki luas 1.570,35 kilometer persegi ditempa untuk mendapatkan peluang dan investasi dari negara kaya di Asia itu. Batam pun berkembang pesat dan jumlah penduduk kian meningkat.

Dengan ditetapkannya Batam, Bintan dan Karimun (BBK) sebagai kawasan perdagangan bebas atau FTZ (free trade zone) yang berbasis industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maka migrasi penduduk dari BBK ke daerah lain diperkirakan akan berkurang karena terbukanya lapangan pekerjaan. Dilain sisi, akan ada sejumlah migran dari daerah lain kedaerah ini dan dengan sendirinya jumlah pendudukpun akan ikut meningkat.

Urbanisasi yang terjadi di Kepri diharapkan dapat diimbangi dengan peningkatan ketersediaan air baku untuk air minum. Bila tidak, maka dikhawatirkan akan terjadi krisis air bersih. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air, dikhawatirkan dapat memicu terjadinya konflik sosial dan konflik lainnya. Fenomena itu harus disikapi serius oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Karena selain berpengaruh kepada strategis perekonomian nasional dan lokal, ada tanggung jawab yang wajib dipikul oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, yakni tanggungjawab Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bagi memenuhi kebutuhan dasar penduduk. Itu di atur didalam PP No 16 tahun 2005 tentang SPAM. Tidak saja Pemerintah harus menjamin ketersediaan air baku untuk air minum saja, bahkan pelayanannya juga harus memenuhi standar pelayanan mengalir 24 jam perhari dengan kwalitas air yang langsung diminum terhitung tahun 2008 yang lalu. Pertanyaannya, sudahkah standar pelayanan minimal itu dirasakan masyarakat ?

Saat ini saja, krisis air bersih itu telah berlangsung di Tanjungpinang. Sumber air baku untuk air minum yang dikelola PDAM, debit airnya tidak sebanding dengan tingkat konsumsi. Dengan cakupan pelayanan yang hanya 41 persen dari jumlah penduduk Tanjungpinang, Indeks Penggunaan Air baku waduk Sei Pulai telah melebihi 50 persen dan bahkan sudah mencapai 61 persen. Setiap tahun, pada saat intensitas curah hujan rendah, waduk Sei Pulai dihadapi ancaman penyusutan yang cukup signifikan.

Di Batam, potret pelayanan air minum yang dikelola PT. ATB sudah jauh lebih baik dari yang ada di Ibu Kota Provinsi Kepri saat ini. Cakupan pelayanan PT. ATB sebesar 95 persen dan berada jauh diatas rata-rata target RPJM 2009-2014 60 persen dan target MDGs 2015 83 persen. Tingkat kebocoran air rata-rata PT. ATB hanya tercatat 26,5 persen per bulan sedangkan PDAM Tirta Kepri rata-rata sebesar 51 persen dan rata-rata kebocoran/NRW PDAM di Indonesia adalah 38 persen. Prestasi PT. ATB ternyata menjadikan perhatian pihak PEMDA, PDAM dan DPRD dari kota lain melakukan studi banding ke Batam. Meskipun demikian, dengan laju pertumbuhan penduduk Batam yang relative tinggi itu sedangkan Sumber air baku yang saat ini semakin terbatas maka menuntut Pemerintah/ Pemerintah Daerah dan semua pihak terkait mempersiapkan langkah antisipatif terhadap kemungkinan kelangkaan pasokan air bersih di Kota Industri itu. Pemerintah/Pemda sudah harus menyediakan DAM/Waduk baru guna menjamin ketersediaan air baku. Lalu merawat infrastruktur waduk agar bisa menambah daya tampung air, konservasi daerah tangkapan air, pemanfaatan air limbah dan kampanye hemat air. Bila tidak, krisis air yang diperkirakan bakal terjadi di Batam pada tahun 2015 akan benar-benar terjadi. Jumlah pengguna air bersih dapat melebihi volume dan produksi air. Hal itu tentu tidak bisa kita sepelekan mengingat Batam merupakan kawasan strategis perekonomian nasional. Peningkatan ketersediaan air baku tidak saja harus dilakukan di Batam melainkan juga  di Karimun, Tanjungpinang dan Bintan untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk dimasing-masing wilayah itu.

Didalam menghadapi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air, Pemerintah/Pemda ternyata tidak tinggal diam. Sejumlah proyek pengadaan dan peningkatan ketersediaan air bakupun digulirkan, baik yang dibiayai melalui APBN maupun APBD. Di Tanjungpinang sendiri, sampai dengan tahun 2010 Lembaga ALIM mencatat ada sejumlah Proyek Air Bersih antara lain Proyek Air Bersih di Madong, Proyek Air Bersih di Kampung Bulang, Pembuatan Sumur Bor di Kampung Bulang, Sumur Bor di Jln. Pemuda, Jalan Sei Jang dan Jln. Pramuka, Proyek Peningkatan Tampungan Air Waduk Sei Pulai. Proyek Pentawaran Air Laut dengan system Reverse Osmosis (RO) di Kabupaten Bintan dan sejumlah proyek lainnya. Belum lagi proyek-proyek yang berkaitan dengan system produksi, distribusi dan pelayanan air bersih seperti proyek pipanisasi, sarana dan prasarana air minum, reservoir, meterisasi, optimalisasi, normalisasi dan lain sebagainya di Kabupaten/Kota se-Kepri. Secara rinci data proyek-proyek air bersih di Kabupaten/Kota se-Kepri dalam waktu tertentu memang belum dapat disajikan pada tulisan ini mengingat minimnya data yang ALIM miliki dan sampai saat ini Pemprov Kepri belum membentuk Dewan Sumber Daya Air Kepri dan belum memiliki Unit Pelayanan Teknis (UPT) Sistem Informasi Sumber Daya Air, sebagaimana diamanatkan didalam UU 7/2004.

Ada sejumlah rencana Pemerintah/Pemda di tahun 2011 ini yang berkaitan dengan peningkatan ketersediaan air  baku untuk air minum antara lain, Proyek Pembangunan DAM Tembesi di Batam, Proyek Pembangunan Waduk Gesek di Kabupaten Bintan dan Proyek Pentawaran Air Laut dengan system RO di Tanjungpinang. Mungkin banyak lagi Proyek yang belum tercatat oleh ALIM, yang dilakukan Pemerintah/Pemda untuk menjawab tantangan air perkotaan hingga beberapa tahun kedepan. Meskipun demikian, ALIM juga mencatat ada sejumlah Proyek Air Bersih yang tergolong Mubazir alias belum bisa dirasakan manfaatnya bagi memenuhi hajat hidup orang banyak, dan bahkan sangat tendensius kepada kepentingan hajat hidup oknum tertentu saja.

Seberapa jauh sumber daya air yang berada di Kepri sudah dapat dipergunakan bagi kepentingan hajat hidup orang banyak melalui system perpipaan, akan kami sajikan berikut ini. Kondisi Air Minum Sistem Perpipaan di Provinsi Kepri selanjutnya dapat dilihat seperti pada table I.3 dibawah ini.

Tabel I.1

Kondisi Air Minum Sistem Perpipan di Provinsi Kepulauan Riau 2010

No. Kabupaten/Kota PengelolaSPAM Jumlah Pelanggan Air Minum
1. Kota Batam PT. Aditya Tirta Batam 170.000
2. Kota Tanjungpinang PDAM Tirta Kepri 17.079
3. Kabupaten Bintan PDAM Tirta Kepri 2.017
4. Kabupaten Karimun Perusda Karimun 1.835
5. Kabupaten Natuna PDAM Tirta Nusa 1.825
6. Kabupaten Lingga PDAM Dabo Singkep 1.389
7. Kab, Kepulauan Anambas PDAM Tirta Nusa Ikut Natuna
Jumlah 194.145

Sumber data : Perpamsi 2010

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 24, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: