Tanjungpinangpos : Sektor Air Minum Kurang Mendapat Perhatian.


Sektor Air minum kurang mendapat perhatian yang cukup dari Pemerintah dibanding sektor infrastruktur lainnya. Hal itu dapat dilihat dari APBD Kepri yang mengalokasikan anggaran  kurang dari 2% dari seluruh anggaran pembangunannya. Padahal sektor Air minum merupakan sektor yang secara langsung memberikan kontribusi besar terhadap status kesehatan masyarakat dan terkait langsung dengan tingkat produktifitas sumber daya manusia.

Tahun 2010 ini, anggaran untuk sektor air minum PDAM Tirta Janggi hanya sekitar Rp6 M dengan perincian Rp5 pada APBD Murni ditambah Rp1 M pada APBD-Perubahan yang lalu. Sedangkan total anggaran pembangunan pada APBD Provinsi Kepri tahun 2010 mencapai Rp1,963 Triliun. Jadi tak sampai 1% melainkan hanya sekitar 0,003% saja. Bila dibanding dengan sektor infrastruktur lainnya, atau dibandingkan dengan anggaran untuk membangun gedung LAM saja, masih jauh.

Saya orang Melayu dan asli Bintan, sudah pasti sangat mendukung pembangunan gedung LAM itu. Tetapi dilain sisi, Saya juga tak ingin melihat saudara-saudara kita yang berada di Tanjung Unggat, Kampung Bulang, Perumnas Sei Jang atau daerah-daerah lainnya yang harus bergiliran dan begadang untuk mendapatkan air. Saya setuju pembangunan gedung UMRAH di Dompak tetapi Saya juga prihatin bila terus-menerus SDM PDAM diklaim tak mampu dan tidak bermutu tanpa ada solusi yang bisa membuat mereka keluar dari kemelut minimnya anggaran untuk peningkatan pola pikir dan kesejahteraan mereka.

Apalah artinya gedung bertingkat mencakar langit, kalau air minum/bersih susah didapat, terutama yang dirasakan masyarakat yang berasal dari Rumah Tangga Miskin (RTM). Air minum adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda-tunda dan harus terpenuhi secara cukup merata, dengan mutu yang baik dan harga terjangkau.

Apalah artinya pembangunan pisik di PDAM sementara pembangunan kwalitas SDM nya terabaikan oleh rencana-rencana muluk yang ujung-ujungnya semakin membuat pegawainya susah karena proyek-proyek pisik yang dibangun tidak optimal.

Memang benar ada sejumlah proyek air minum yang dibiayai melalui APBN seperti proyek peningkatan tampungan waduk Sei Pulai senilai Rp7 M dan lain-lain. Tetapi bila ditotalkan dan dibandingkan dengan sektor lainnya masih kurang. Perlu kejelasan antara pusat dan daerah didalam menentukan arah dan kebijakan jangka menengah untuk percepatan pembangunan sektor air minum di daerah.  Seperti arah dan kebijakan daerah dalam status pencapaian layanan, SWOT daerah, sinkronisasi pelaksanaan RPJMN dan RPJMD, isu dan permasalahan yang terkait dengan sektor air minum.

Keterkaitan yang jelas itu meliputi strategi pembangunan (investasi) air minum dan sanitasi hendaknya terintegrasi dalam suatu rencana induk, perencanaan yang komprehensif, tertuang di dalam RPIJM (Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah) dan Strategi Sanitasi Kota.

Koordinasi antara Pemda, Akademisi, LSM dan juga Pengelola Air Minum didaerah sangat diperlukan guna menyikapi berbagai issu seperti pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, Tata Ruang, Pengaruh krisis global dan issu lain yang dianggap penting oleh daerah.

Dimuat di Tanjungpinang Pos. Jumat, 8 Oktober 2010-10-08

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Oktober 8, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: