Di Batam : Dua Anak Tewas Terseret Banjir


Photo : Sijori Mandiri

Batam Pos
Dua Anak Tewas Terseret Banjir
Berita Utama
Selasa, 28 September 2010 08:49

Banjir yang melanda Kota Batam, Senin (27/9) kemarin, menelan korban jiwa. Dua anak tewas dan satu luka-luka terseret banjir. Kedua anak yang tewas yaitu Beni Hotlan Siregar, 6, murid Taman Kanak kanak (TK) Huria Kristen Indonesia (HKI) Bengkong Indah Atas dan Bayu, murid kelas tiga SD 003 Seipanas. Kedua korban ditemukan tewas di lokasi berbeda.

Mayat Beni ditemukan di parit sebelah masjid dekat Puskesmas Seipanas, sedangkan Bayu ditemukan tewas di selokan tak jauh dari rumahnya di Bukit Beruntung. Sedangkan satu anak lagi, Maruli, 6, teman satu sekolah dengan Beni berhasil diselamatkan.

Kejadiannya bermula sewaktu hujan deras mengguyur Batam kemarin dan mengakibatkan banjir di sejumlah tempat, termasuk di Seipanas. Saat itu, Karmin S, ayah Beni berniat menjemput anaknya di sekolah. Saat itu, ia mendengar ibu-ibu yang juga menjemput anak mereka, berteriak minta tolong ada dua anak yang terbawa arus banjir di selokan dekat sekolah. Mereka, Beni dan Maruli.

Karmin pun berusaha memberikan pertolongan dan melakukan pencarian. Namun Beni tak ditemukan. Ia terseret arus cukup kuat. Sedangkan Maruli berhasil diselamatkan tukang ojek yang membantu mengangkat tubuh korban. Kebetulan Maruli yang tubuhnya sudah tenggelam, tangannya masih sempat berpegangan kuat di batu pinggir selokan. Maruli menderita luka di bagian atas pelipis mata kiri dan lecet pada bagian paha kaki kiri.

Setelah pencarian dilakukan, akhirnya Beni ditemukan sudah tak bernyawa tersangkut di parit dekat Puskesmas Seipanas.

Kapolsek Bengkong, AKP Dilly Yanto mengatakan mayat Beni ditemukan di parit sebelah masjid dekat Puskesmas Seipanas dan SMP 6. “Beni terbawa derasnya arus air parit dari atas depan Sekolah HKI menuju parit samping SMP 6 yang jaraknya cukup jauh,” ujarnya.

Sesudah ditemukan, Beni langsung dibawa ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) untuk divisum. Karmin, ayah Beni, histeris mendapati tubuh anaknya yang kaku di RSBK. Dia berteriak-teriak tak kuasa menahan kesedihannya. “Gak ada anak kita lagi, bang,” kata Karmin kepada teman-temannya.

Meski ditenangkan, Karmin tetap tak bisa terima. Sambil berteriak, Karmin menceritakan pengalaman terakhirnya bersama anaknya. Tadi pagi, kata Karmin, anaknya mengatakan, “Sayang aku tak pak?,” ”Ya sayang lah nak,” kata Karmin. ”Kalau begitu, cium dulu,” kata Beni, ditirukan Karmin.

”Itulah kata-kata terakhirnya,” kata Karmin terus menangis. Karmin baru mau dibawa pulang setelah ambulans yang membawa jazad anaknya meluncur ke rumahnya. Karmin tak hanya histeris, ia juga sempat pingsan. Suasana duka makin terasa saat jenazah Beni sampai di rumah. Ibunya, T Aritonang juga histeris dan pingsan.

Sedangkan kawan main Beni, yang hampir ikut hanyut terbawa arus air, Maruli,6, selamat dan hanya menderita luka di bagian atas pelipis mata kiri dan lecet pada bagian paha kaki kiri.

Saat Batam Pos mendatangi kediaman Maruli, orang tua Maruli sempat bertanya bagaimana keadaan Beni. Begitu diberitahu Beni meninggal dunia, orang tua Maruli langsung lemas mendengarnya. ”Om kawan aku tadi hanyut sama aku kemudian hilang,” cerita Maruli.

Ibu Maruli mengatakan sangat bersyukur anaknya bisa selamat. ”Puji Tuhan, anak saya masih diberi perlindungan,” ujarnya.

Dikatakannya, saat itu, Maruli sudah masuk ke parit dan terbawa arus air di selokan. Beruntung Maruli masih bisa memegang batu di pinggir selokan, padahal separuh badan Maruli sudah masuk ke gorong-gorong selokan. Yang terlihat hanya kepala dan tangannya saja. ”Saat itu saya panik dan berteriak minta tolong sama orang yang kebetulan lewat depan sekolah. Tukang ojek yang membantu langsung menarik tangan Maruli, sehingga bisa selamat. Ini cobaan dari tuhan yang diberikan pada anak saya,” ujar ibu Maruli.

Sampai kemarin, pihak sekolah HKI belum bisa dimintai konfirmasi seputar hanyutnya dua muridnya. “Maaf ibu lagi ada urusan dan masih belum bisa menemui siapapun, pasalnya ibu masih berkabung,” ujar seorang guru TK HKI kepada Batam Pos.

Orang Tua di Malaysia

Sementara itu, kejadian yang menimpa Bayu bermula saat ia dan teman-temannya main hujan di jalan saat pulang sekolah. Tiba-tiba ia terpeleset hingga terjatuh ke selokan yang arusnya deras. Warga pun berusaha mencari korban, namun korban saat itu tak langsung ditemukan. Sore hari sekitar pukul 17.45 WIB, korban baru ditemukan warga di selokan, tepat di belakang Pasar Bukit Beruntung, Seipanas. Bayu pun dilarikan ke Rumah Sakit Awal Bros, namun naas, nyawa Bayu tak dapat diselamatkan.

”Tidak tertolong lagi,” ujar Yeni, tante korban sambil menangis. ”Saat ditemukan masih mengenakan seragam sekolah. Orangtuanya kebetulan lagi di Malaysia. Jadi kami juga belum tahu nama orangtuanya,” ujar Kapolsek Batam Kota AKP Suka Irawanto. (cr6/med)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on September 28, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: