PARADE AIR


Hujan turun deras. Aku tak sanggup melewati Jl. Pemuda yang tergenang air. Bila dipaksakan juga, badan dan motor bebek ini pasti akan terendam. Semua yang melekat di badan akan basah. Meskipun ketinggian air tidak merata, tetapi ada yang setinggi  udel  dan ada pula yang masih dibawah lutut orang dewasa.

Aku tertegun menyaksikan Parade Air di siang bolong itu. Barisan air dengan cepat bertandang ke rumah penduduk dan singgah di ruko-ruko Saudara Ku yang berasal dari etnis Tiong Hoa. Padahal,.. Tak ada yang memberi aba-aba dan memerintahkan barisan air itu berjalan dengan cepat sampai ke tempat itu. Eeeh… ! Berlenggang lenggok pulak, dan dengan gemulai menghantam tembok, dinding, pohon dan kaki-kaki manusia.

Ah,.. biarlah. Baru bulu-bulu kaki ku saja yang basah. Sedangkan bulu kuduk ku tidak. Aku masih tetap bertahan berdiri di depan hamparan toko di jalan yangdari dulu muda terus (Jl. Pemuda). Meskipun bulu kuduk Ku merinding menyaksikan Parade Air Kotor itu melintas dengan tangkas, namun bulu-bulu yang terdapat di bagian tengkuk ini masih tetap kering. Betul,.. Tidak ada yang terkena hujan dan tidak pula bermandi keringat.

Beberapa jam setelah itu, Parade Air itupun bubar dengan sendirinya. Setelah sebelumnya ”mereka” kesulitan menuju ke laut akibat sempitnya lorong, terhadang sampah dan terkepung Bajak Laut,.. tetapi sekarang kondisi itu sudah berlalu dan yang tinggal hanya ”anak-anak bawangnya” saja. Alias air-air setinggi mata kaki budak-budak.

Parade Air  telah berakhir dan Aku pun berlalu meninggalkan jalan itu.

”Semoga,.. Parade mu, tidak menjadi petaka bagi kami”, hati kecil Ku berkata.

Malam harinya, Parade Air itu masih membekas didalam benak Ku. Ingin Aku kutuliskan kisah Parade Air itu untuk kalian semua, lalu aku postkan di Blog yang sempit ini dan bisa kalian baca pula didinding Facebook Ku yang selalu sepi pengunjung. Tetapi,.. Aku tak bisa melakukannya.”Kepala Hotak Ku” tersumbat peristiwa siang tadi.

Mata ini belum dihinggap rasa ngantuk. Satu persatu dinding Facebook teman-teman ku Aku buka. Syukurlah jumlahnya baru 200 yang ada di jejaring pertemanan ini. Jadi semuanya masuk ambong dan semuanya masuk hitung. Kalau sudah mencapai 1000 mungkin lain lagi. Semuanya masuk ambong tetapi hanya sebagian saja yang masuk hitung. Yang tak masuk dihitung, harap maklom sajalah.

Tak lama kemudian, aku terdengar suara, ”Tanjungpinang Kepulauan Riau kebanjiran”. Aku langsung bergegas menuju sumber suara itu yang tak lain adalah suara penyiar berita TV malam itu. Benar,.. Suara wanita penyiar berita salah satu TV swasta nasional terkemuka, MetroTV.

Astaga,.. Aku menyaksikan kembali Parade Air di jalan Pemuda itu dilayar TV 21 inchi ini.

”Semoga,.. Parade Air, tidak menjadi petaka bagi kami. Ketahuilah INDONESIA Ku,.. Tanjungpinang Ku Kebanjiran”.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on September 19, 2010, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Semoga kesadaran warga untuk menjaga lingkungan juga semakin baik dan tidak hanya menggantungkan kepada pemerintah untuk mengatasi banjir, Sehingga kita menjadi tahu bagaimana kita bersikap dan berbuat agar banjir tidak terjadi. Karena jika kita mau menyadari dan membuka diri bahwa musibah yang datang kebanyakan adalah karena ulah kita yang sering tidak mengontrol diri.

    • Benar sekali. Air urusan kita semua. Kesalahan kita semua dan menjadi petaka bagi kita. Bila kita bijak, Rahmat Tuhan itu akan menjadi nikmat bagi kehidupan kita semua. Terimakasih,.. Semoga Tuhan membalas kebaikan mu. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: