Telaga Tuah


  • Fiksi Karya :
  • Kherjuli

Tersebutlah kisah tentang Telaga Tuah yang yang kering akibat  Sultan dan rakyatnya tidak lagi ambil peduli dan memeliharanya. Balak pun menjelma. Telaga Tuah menjadi susut dan sekejab lagi akan kering. Carot marot pun terjadi. Kesulitan air di seluruh pelosok negeri  membuat dua orang Sultan   berselisih paham, saling menyalahkan dan hampir berkelahi. Akhirnya, sampailah ketelinga sang Raja. Nak Tahu,.. Apa yang dilakukan Raja yang arif dan bijaksana itu ?

Inilah kisahnya,..

Pada mulanya, hutan dan lahan di sekitar Telaga  Tuah terpelihara dengan baik. Tak ada yang berani menebang kayu dan membuat rumah disekitar Telaga Tuah. Pendekar-pendekar hutan yang digaji oleh Kerajaan, senantiase mengamankan hutan dan lahan dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggongjawab. Sultan yang diberi amanah Raja untuk merawat Telaga Tuah itu terbukti dapat melaksanakannya dengan penuh rasa tanggongjawab. Hasilnyapun sangat mengembirakan. Alhasil, ketersediaan Air didalam Telaga Tuah tetap berlimpah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat diseluruh negeri, termasuk kebutuhan disaat musim kemarau tiba. Bertahun-tahun lamanya rakyat dapat merasakan manfaat dari Telaga Tuah. Berkat kearifan Sultan, negeri menjadi makmur dan rakyatpun sejahtera. Negeri menjadi tersohor dengan  julukan negeri Bestari (bersih, semangat, taat, ramah, aman dan indah).

Pada tahun 1798 terjadi perubahan system kerajaan di negeri ini. Berawal dari kesilitan ekonomi dan berujung dengan aksi unjuk rasa yang menuntut Raja Antabrata mundur tahta. Raja dianggap sudah tidak lagi peduli dengan nasib rakyat dan memperkaya diri sendiri. Alasan lain karena Raja dianggap sudah terlalu lama memerintah dan ingin tetap berkuasa sampai mati.  Raja dianggap berkuasa turun temurun dan meninggalkan hutang bertambun. Rakyat tak terima dengan semua itu. Rakyat tak ingin sengsara dan hidup menderita dibawah kekuasaan Raja. Kasihan sungguh nasib Sang Raja,.. tengah sedap-sedapnya berkuasa, diminta mundur sama budak-budak secara paksa. Gedung Balai Adat Rakyat dikepong budak-budak dan mendesak  Ketua Suku supaya tidak lagi duduk dikursi kerajaan. Begitulah peristiwa buruk yang dikenal dengan istilah Reformasi. Peristiwa duka dalam sejarah kekuasaan negara Antabrata pada masa itu.

Akhirnya perubahan sistem kerajaan di negara Antabrata pun terjadi. Raja dan Sultan tidak lagi memerintah dan berkuasa berdasarkan hubungan darah, turun temurun, seumur hidup dan harus laki-laki. Memang tidak lagi seperti itu. Sekarang Raja dan Sultan dipilih langsung oleh rakyat. Perempuan pun boleh menjadi Raja dan berkuasa. Apalagi menjabat sebagai Sultan. Boleh saja, asalkan rakyat menghendakinya pada Pemilihan Raya.  Dengan sistem kerajaan yang baru itu membuat kewenangan Raja menjadi terbatas. Raja  tidak lagi diperboleh berkuasa terlalu lama dan tidak boleh bersifat otoriter. Kewenangan dan kekuasaan Raja yang sebelumnya tanpa batas, sekarang didelegasikan kepada para Sultan diseluruh negeri. Kecuali  dalam hal ehwal mengantu agama, keuangan, hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan. Kewenangan yang dimilki Sultan sangat besar sekali. Termasuk memberikan izin tambang dan mengolah hasil alam dari perot bumi. Tidak perlu menunggu izin dan mendapat restu dari Sang Raja. Pokonye,.. Sultan diberikan kekuasaan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Negerinya bagi terwujudnya  kejahterakan rakyat dan menghapus kesenjangan ekonomi.

Kewenangan lainnya yang ada pada diri Sultan adalah memekarkan negeri  menjadi negeri baru, berdaulat dan bertahta. Tujuannya supaya dalam proses pembagian dan pengaturan hasil bumi kepada seluruh rakyat nya menjadi lebih adil dan merata. Dengan demikian rakyatpun menjadi sejahtera.

Negari Antabrata yang dikenal sangat kaya dengan sumber daya alam seperti bauksit, pasir, batu granit dan air itu akhirnya dimekarkan menjadi dua kekuasaan. Pemekaran negeri Antarbrata ternyata ikut menjadikan Telaga Tuah berada dalam dua kekuasaan Kesultanan. Bagian hulu Telaga menjadi kewenangan Soltan Bontan dan Bagian hilir menjadi kewenangan Soltan Penang.

Pemekaran negeri dan pergantian penguasa ternyata membuahkan kerusakan terhadap lingkungan hidup dan kelangkaan air begitu cepat. Pembangunan disegala bidang yang konon dilakukan dengan tetap berwawasan lingkungan dan kelestarian air, ternyata hanya berupa sandi-sandi yang dituliskan pada prasasti negeri. Bukan pada bukti dan sumpah untuk takot tidak menempati janji.

Rakyat yang sebelumnya hidop menggantongkan nasibnya dengan laot, sekarang sudah beralih mata pencaharian. Mereka tidak lagi bekerja sebagai nelayan. Tetapi sayangnya, tidak juga bekerja sebagai kaki tangan kerajaan. Mereka malah bekerja sebagai kuli bangunan, makelar tanah dan juga penebang kayu gelap di hutan. Akhirnya, hutan dan lahanpun sudah tidak rimba lagi dan tanah yang dikerok dalam-dalam itu sudah tidak lagi subur seperti sediakala. Hutan dan lahan banyak yang sudah berubah fungsi dan beralih peruntukan. Pohon-pohon besar ditebang sesuka hati. Kayunya diambek dan resam-resamnya dibakar sampai menimbulkan gumpalan asap tebal di seluruh negeri. Akibatnya,.. Budak-budak dan orang tua banyak yang sesak nafas dan bahkan ada yang meninggal karena ahli nujum  negeri tak paham mana yang sesak dan mana yang sudah nazak.

Asap dari kebakaran hutan yang telah mengorbankan nyawa rakyat itu,  bukan saja merebak luas didalam negeri tetapi menjalar sampai ke negeri jiran. Sampai-sampai Raja Singaparna tersinggong dan marah. Ia kemudian mengirim surat protes dan mengeluarkan ancaman keras kepada Raja Antabranta. Raja Antarbarata kemudian menjadi tidak sedap hati dengan kerabatnya yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya itu. Raja pun segera menegur kedua Sultan untuk mencegah meluasnya asap tebal ke negeri jiran. Tetapi sayang, sama sekali tidak dihiraukan. Sultan tidak terlalu ambil peduli terhadap persoalan itu. Maklomlah,.. Sultan sekarang tidak lagi seperti Sultan dahulu. Sultan Sekarang  diberi keris berdaulat dan punya Singgasana sendiri.

Karena Sultan tak nak lagi ambil peduli dengan aksi pengrusakan hutan dan penambangan haram, lama kelamaan, rakyat jelata yang lain ikot-ikotan  memanfaatkan situasi itu untuk mencari keuntungan pribadi. Yang dulunya melaot sekarang bekerja menebang hutan, menambang pasir darat dan menjadi buruh tani di perkebunan kelapa sawit yang terletak tak jauh dari Telaga Tuah. Mereka kemudian membuat rumah, membagi-bagi lahan, membuka jalan  dan memperparah kerusakan lingkungan hidup serta memutus tali-tali air menuju Telaga Tuah. Alhasil, daya dukung hutan dan lahan menjadi semakin berkurang. Iklim berubah, suhu menjadi panas, pasang surut air laut dan cuaca berubah semakin tidak menentu.

Pada suatu hari di tahun 1809, Air di Telaga Tuah menyusut tajam. Padahal musim kemarau tahun itu tidak sepanjang tahun-tahun sebelumnya.   Meskipun dulu kemarau beberapa bulan tetapi rakyat tidak pernah mengalami kesulitan air. Tetapi sekarang berbeda. Musim kemarau membuat rakyat di negeri Penang kesulitan mendapatkan air. Suana menjadi hiruk pikuk dan negeri menajadi kacau. Rakyat bersusah payah mendapatkan air. Ada yang berjalan kaki hingga ratusan hasta untuk mendapatkan satu mangkok air, dan ada pula yang tak mandi dan tidak juga melakukan kegiatan diluar rumah. Ada yang bilang Ia berzikir dan berdoa minta turun hujan.

Satu diantara mereka yang cerdik, mengusulkan kepada Raja  agar mendatangkan orang cerdik dari negeri seberang yang memiliki kemampuan  membuat hujan buatan. Ia memberi contoh sebagaimana yang pernah kakeknya lakukan ratusan tahun silam di Tiongkok dan di negeri Paman Sam. Kedua negeri itu memang sangat termashur dengan dengan ilmu dunia dibanding ilmu akhirat.

Kekeringan semakin menjadi-jadi. Amarah dan emosi rakyatpon sudah tidak dapat lagi ditahan. Maklomlah menyangkut hajat hidup dan kelangsungan. hidup orang banyak. Sudah tentu membuat  banyak orang menjerit. Jeritan itupun sampai ketelinga Sultan Penang dan Sultan Bontan. Mereka saling tuduh dan saling menyalahkan. Mereka berpidato dimana-mana hanya  untuk mencari pembenaran diri ketimbang berupaya agar Tuhan mau memberikan  air hujan. Suasana di dua negeri itu jadi semakin memanas, sepanas suhu yang dihasilkan pada musim kemarau. Musibah kekeringan menjadi semakin panjang.

Akhirnya, peristiwa keringnya Telaga Tuah itu sampai ketelinga Raja dan disikapi serius oleh Sang Raja. Lalu Raja memerintahkan Panglima agar memanggil Sultan Penang dan Sultan Bontan menghadap. Raja ingin mendapat penjelesan dan mencari tahu penyebab keringnya Telaga Tuah.

Tak lama berselang,..  Sultan Penang dan Sultan Bontan pergi menghadap Raja dengan didampingi ahli nujum negeri masing-masing. Setelah mendengar penjelesan dari para Sultan dan Ahli nujum negeri yang sengaja dibawa Sultan, Raja ternyata tidak puas. Tidak beralasan, mengada-ngada dan tidak masuk diakal. Raja tidak bisa menerima pendapat ahli nujum negeri yang mengatakan bisa diatasi dengan cara merubah air laut  menjadi air tawar. Cukai air mesti dinaikan untuk membiayai pekerjaan itu.

Wajah Raja seketika menjadi cemberut. Kupiungnya memanas mendenagar pendapat ahli nujum negeri. Raja berpikir, untuk apa susah-susah merubah air laut menjadi air tawar karena tanpa dirubah pun sudah menjadi tawar dengan sendirinya. Air laut yang menguap karena panas matahari, lalu membentuk awan, menjadi hujan dan tumpah menjadi air tawar dengan sendirinya. Tidak perlu susah-susah dan harus mengeluarkan  biaya yang mahal. Apalagi sampai menaikan cukai air.

Tidak puas dengan penjelasan Sultan dan Ahli Nujum Negeri Penang dan Bontan, kemudian Raja memerintahkan Panglima untuk memanggil Ahli Nujum Kerajaan menghadap.

Ahli Nujum Kerajaan pun mengahdap. Dia kemudian menelek-nelek didalam dulang berisi air. Mulutnya kumat kamit membacakan berbagai mantera.

“Duhai Mambang Air,… Kenape dikau menghilang dari perot bumi,.. Jawablah dengan jujur duhai Mambang..” Kata Ahli Nujum Negara.

Tiba-tiba muncul wajah Tok Jampi yang sedang menjampi air sambil membacakan ayat-ayat suci. Begitu yang didengar Ahli Nujum Negara dari mulut Tok Jampi.  Ahli Nujum Kerajaan lalu menjelaskan kepada Raja akan keterbatasannya untuk menjawab kenapa Telaga Tuah tiba-tiba menjadi kering. Ia hanya mengatakan kalau Tok Jampi lah yang paling tahu akan permasalahan itu dan Tok Jampi lah yang mampu menyelesaikan masalah kekeringan yang berlangsung lama itu.

Raja lalu memerintahkan Panglima untuk memanggil Tok Jampi datang ke Istana menghadap dirinya.

Tok Jampi datang menghadap Raja di pagi Jumat yang terasa sangat panas itu. Tok Jampi menjawab semua pertanyaan Raja dengan arif dan bijaksana. Raja dapat memahami penjelasan Tok Jampi. Lalu Raja memerintahkan kedua Sultan dan rakyat di dua negeri itu bertobat, berpuasa selama empat hari lalu melaksanakan sholat istighotsah atau sholat minta turun hujan. Kemudian Raja memerintahkan Sultan Bontan menebang pohon kelapa sawit, memindahkan penduduk, melakukan penghijauan, membuat lereng-lereng tempat air, membersihkan dan memperbaiki Telaga Tuah itu, membuat tali-tali air agar airnya bisa masuk ke dalam Telaga Tuah.

Akhirnya perintah Sang Raja dilaksnakan oleh Sultan Penang dan Sultan Bontan serta  diikuti oleh seluruh rakyat di hampir pelosok negeri yang kering kerontang itu. Tak lama berselang,  hujan turun deras selama beberapa hari. Telaga Tuah pun berisi air kembali. Tak tanggung-tanggung, airnya pun sampai melimpah ruah tumpah mengaliri sawah dan kawah milik penduduk.

Melihat Sultan dan rakyatnya mau bertaubat dan air di Telaga Tuah itu sudah kembali normal, Raja bergembira dan bersenandung ria dengan melantunkan lagu keroncong yang ditangkan dari negeri gersang.

“Telaga Tuah. Riwayat mu dulu…”

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 24, 2010, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: