Kisah Tok Teban dan Hiu Talang


Kisah Tok Teban dan Hiu Talang

Sebagai seorang nelayan, seperti biasa Tok Teban sudah siap turun ke laut untuk mencari ikan dengan peralatan tangkap yang sangat sederhana.

Ikan Hiu Talang. Buruk rupa tapi berhati mulia. Telah menolong Tok Teban dari badai di tangah laot Bentan. (Photo : Internet)

Sore itu cuaca sangat mendukung. Laut begitu bersahabat dengan manusia. Langit cerah dan anginpun tidak bertiup kencang. Tidak ada tanda-tanda mendung dan hujan akan tumpah ke laut.

Setelah selesai sholat Ashar, Tok Teban mengambil peralatan pancing dan Rawai serta bekal makanan yang telah disiapkan untuknya selama di laut. Tok Teban lalu pamit dengan istrinya dan selangkah demi selangklah Iapun mulai meninggalkan istrinya dan berjalan menuju ke tepi sungai tempat Sampannya di tambat. Sambil memikul ciau dan membawa peralatan pancing, Rawai dan menjinjing bekal makanan, Tok Teban berzikir didalam hati dan tidak henti-henti menyebut kalam Allah. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan Tok Teban.

Tok Teban memang dikenal sebagai seorang tua yang alim dan taat beribadah. Bagi keluarga dan juga masyarakat Bentan, sosok Tok Teban sudah tidak asing lagi dan dianggap sebagai panutan dan menjadi suri tauladan serta dituakan dalam berbagai hal.

Matahari sudah hampir terbenam. Tidak bisa dipastikan sudah berapa jauh Sampan yang diciaunya itu berjalan. Tidak ada Kompas dan alat ukur yang bisa menentukannya. Hamparan laut dan pulau-pulau sudah mulai tertutup gelapnya malam. Tok Teban pun kemudian menghidupkan lampu suluh yang terbuat dari kaleng dan sumbu kain yang diberi minyak tanah. Sauhpun sudah dicampakkan ke dasar laut. Tok Teban mengambil air tawar yang dibawa dari rumah untuk berwudhu. Sajadah dibentang dan dihadapkan kearah kiblat, arah barat dan arah terbenamnya matahari.

“Allah hu Akbar !”, Tok Teban mulai menunaikan Sholat Maghrip dan melupakan semua peristiwa dunia untuk menghadap sang Illahi.

Sauh yang terbuat dari batu dan besi tajam yang terbenam didasar laut ternyata tak mampu membuat Sampan menjadi diam pada posisi yang diarahkan. Perlahan-lahan Sampan itupun bergerak mengikut alur air laut. Namun tidak membuat Tok Teban hilang kekhusukan menghadap sang Khalik.

“Assalamualaikum warahmatullah,..”,

Setelah selesai berdoa, Tok Teban mengemas Sajadahnya dan membuka bekal makanan yang disiapkan istrinya. Ia pun menyantapnya dengan penuh rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah kepada keluarganya. Tak lupa pula terimakasihnya yang dalam buat istri tercinta yang selalu setia mendampingi masa-masa hidupnya.

Tok Teban mulai menarik Sauh dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah yang biasa Ia tuju. Hati, pikiran dan sinar bulan menjadi pandu sampai ketempat yang Ia tuju untuk merawai ikan.

Belum sempat Rawai ditarik, angin ribut datang dengan tiba-tiba. Masya Allah,.. Begitu kencangnya. Selama hidup, baru kali ini Tok Teban merasakan ganasnya angin di laut. Tok Teban tidak punya pilihan lain selain berusaha dan berdoa didalam hati agar selamat dari ganasnya angin. Tak banyak yang bisa Ia perbuat dan,…

“Allah hu Akbar !”

Sampan pun karam dan Tok Teban hilang dan tenggelam kedalam laut. Tak tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya.

Tanpa di undang, pagipun datang menutup malam. Para nelayan kampung sudah pada  kembali dari melaut. Tak banyak hasil tangkapan yang bisa mereka bawa pulang. Tidak seperti biasanya sampai belasan Ancak ikan yang beraneka ragam jenis dan bentuknya. Para nelayan saling tegur sapa satu dengan yang lainnya. Mereka terlihat asyik menceritakan angin ribut yang terjadi tadi malam. Istri dan anak-anak merekapun menyambut dengan senang hati. Bukan karena senang membawa ikan tetapi senang suami dan ayah mereka selamat dari terjangan angin ribut.

Istri Tok Teban hanya bisa melihat dari kejauhan, dari pondok rumahnya yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Hatinya mulai cemas dan gelisah. Jangankan rupa Tok Teban, benda-benda di;aut sana yang menyerupa sampan dari kejauhan tidak kelihatan. Tak ada tanda-tanda Tok Teban sudah kembali. Perasaan cemas dan gelisah mulai menghantui dirinya.

Salah satu dari nelayan mendatangi rumah Tok Teban dan mencari tahu apakah Tok Teban sudah kembali ke rumah.

“Nek,.. Oi Nek,… !

Tok Teban dah balek belom ?” Tanya nelayan itu.

“Belom. Sekejab lagi agaknye. Die memang selalu balek lambatlah. Maklomlah, Tok Kau tu kan dan tue.”   jawab istri Tok Teban dengan tenang dan penuh rasa yakin bahwa suaminya kelak pasti akan kembali dengan selamat. Ia juga berusaha menghilangkan rasa was-was yang ada pada diri nelayan muda itu.

“Tapi Nek,. Tadi malam di laot sane ribot besar dan Sampan Saye hampir aje karam Nek,..” Jelas nelayan itu lagi.

“Do’akanlah supaye Tok kau tu selamat macam ngkau tu”, balas istri Tok Teban lagi.

“Iyelah Nek. Kalau gitu Saye balek dululah”, Jawab nelayan itu

“Ha Baleklah, istirahatlah dan jangan lupe bersih-bersihkan surau kite tu ye”, pesan istri Tok Teban lagi.

Istri Tok Teban sudah tidak dapat lagi menahan rasa cemas yang berkecamuk didalam hatinya. Waktupun terus lewat begitu saja. Waktu Dzuhur sudah lama lewat dan matahari sudah hampir terbenam. Warga sudah pada berkumpul di rumah Tok Teban membicarakan tentang keberadaan dan keselamatan Tok Teban. Nelayan yang terlambat pulang sudah kembali ke kampong. Tak satupun dari mereka yang tahu keberadaan Tok Teban.

Tiba-tiba warga dikejutkan dengan teriakan seorang nelayan yang baru saja sampai.

“Sampan Tok Teban karam di tengah laot sane. Saye sudah mencari Tok Teban,  tetapi tak jumpe. Lihat ini sajadah Tok”.  Kata nelayan separuh baya itu sambil menunjukan Sajadah basah dihadapan istri dan warga yang sedang berkumpul itu. Tersentak semua yang ada di rumah Tok Teban terkejut dan bahkan ada yang berteriak.

“Kite semue harus turon ke laot mencari Tok Teban sekarang juge’, kata salah seorang nelayan.

Istri Tok Teban tak mampu menahan kesedihan dan tanpa terasa air matanya jatuh menetes mengena telekong yang baru saja Ia pakai untuk menunaikan sholat Maghrib beberapa saat lagi.

Warga dan nelayan sudah berkumpul di tepi sungai. Ada yang hanya sekedar ingin menyaksikan dan menunggu pencarian Tok Teban dan ada pula yang ingin ikut bersama nelayan membantu pencarian Tok Teban di laut sana.

Suasana semakin riuh ketika salah seorang nelayan berteriak, “Hoi lihat tu sane !” kata nelayan tua itu.

Semua mata langsung tertuju kearah benda kecil hitam yang terapung diatas laut dan semakin lama kelihatan semakin membesar dan mendekat. Suasana seketika berubah menjadi diam dan haru. Bola-bola mata tak beralih menatap yang lain selain benda hitam yang bergerak itu.

“Itu Tok Teban”, teriak salah satu warga.

“Itu baju yang biase Datok pakai kelaot”, ditambahkannya lagi dengan wajah yang sedikit gembira dari sebelumnya.

“Iyelah, betollah tu Tok Teban”, celetuk orang-orang yang serius menunggu sampai benda itu mendekat mereka.

“Ape lagi, mari kite susol”, kata nelayan tua itu.

“Jangan !’, kata istri Tok Teban. “Biarkan aje die mendekat’, ditambahnya lagi sambil melarang siapapun menghampiri benda yang diduga mirip Tok Teban.

Tak ada satu orang nelayan pun yang berani melawan dan menyangkal larangan istri Tok Teban tadi. Warga senang dan berharap kalau benda yang semakin mendekat itu benar-benar Tok Teban. Banyak yang bingung kenapa Tok Teban bisa bergerak cepat dalam psoisi terbaring dan terapung diatas laut ?

Susana kembali riuh ketika orang yang dinanti-nanti ternyata benar Tok Teban. Namun, siapa yang menyangka kalau Tok Teban ternyata bersama seekor hiu ganas. Siapa yang mengira kalau Tok Teban diselamatkan oleh seokor ikan Hiu besar yang sangat ditakuti orang itu dan antara percaya atau tidak, Tok Teban benar-benar diselamatkan Allah lewat seekor ikan hiu. Ikan Hiu itu oleh masyarakat Bentan disebut Hiu Talang. Mungkin karena di ujung mulut ikan Hiu itu berbentuk seperti talang pintu.

Tok Teban lalu menyampaikan terimakasih kepada Hiu Talang itu dan membiarkan ikan raksasa itu kembali ke laut lepas. Belum jauh Hiu Talang itu bergerak, Tok Teban lalu mengucapkan pesan kepada istri, anak, warga dan nelayan dengan suara yang lantang.

“Haram bagi anak cucu Ku untuk membunuh dan memakan ikan Hiu Talang yang telah menyelamatkan Aku dari dasar laot”.

Sejak itu, tidak saja keluarga tetapi masyarakat Bentan juga mempercayai pesan Tok Teban sebagai sumpah yang harus dipatuhi turun temurun.

———————————————————————————————–

Cerita diatas telah Saya sunting dari cerita yang sebenarnya Saya dengar dari Ibu Saya yang bernama AZIMAH yag merupakan salah seorang cucu dari Tok Teban. Ibu Saya masih hidup dan bersedia menyempurnakan hal ehwal dan sejarah yang sebenarnya terjadi pada Kakeknya. Kakak dan adik-adik Ibu Saya yang masih diberi nikmat umur oleh Allah juga menjelaskan peristiwa yang sama dengan kesimpulan bahwa “Tok Teban pernah diselamatkan oleh Hiu Talang dan mengharamkan kepada anak cucunya untuk membunuh dan memakan ikan tersebut”. Sedangkan yang lainya adalah viktif dan merupakan imajinasi Saya semata.

————————————————————————————————

Demi kesempurnaan substansi dari cerita diatas, Saya menerima masukan dan kritikan serta sejarah yang sebenarnya dari masyarakat Bentan, keluarga dan Zuriat Tok Teban dimanapun berada. Jadikanlah kisah diatas sebagai perekat hati dan untuk menjalin siratuhrahmi kita yang telah terpisah oleh keadaaan, tempat dan waktu.

Tak ada gading yang tak retak

Tak ada manusia yang tidak memiliki salah dan khilaf

Wassalam

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 21, 2010, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: