Suasana di Kota Gurindam


Suasana di Kota Santri

“Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
muda-mudi berbusana rapi
menyandang kitab suci
hilir-mudik silih berganti
pulang-pergi mengaji…”

Sepotong bait lagu religi diatas tentu sudah melekat ditelinga dan hati kita. Sebuah lirik lagu yang menggambarkan kepada kita tentang situasi di kota yang bernuansa religi itu. Hati kita pun terketuk untuk segera datang dan berkunjung ke kota itu. Keteduhan hati dan ketentraman jiwa dapat kita rasakan disana. Itulah kota Santri dan begitulah suasananya apalagi pada bulan puasa seperti sekarang ini.

Berbagai julukan (icon) diberikan kepada kota-kota besar dan kecil ditanah air. Salah satu maksudnya adalah untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat setempat. Disamping itu ada maksud dan tujuan lain seperti memiliki daya tarik pariwisata, budaya dan lain sebagainya.

Selain kota Santri, kita kenal pula dengan sebutan kota Pahlawan, Kota Hujan, Kota Kembang, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Batik, Kota Metropolitan, Kota Gurindam dan lain sebagainya. Mungkin ada banyak lagi dan Anda lebih mengetahuinya ketimbang Saya.

Pada kesempatan ini, Saya ingin berbagi cerita tentang suasana di Kota Gurindam negeri pantun. Suasananya tentu berbeda dengan kota Santri. Meskipun sama-sama tengah memasuki bulan suci Ramadhan tetapi jarang kita melihat muda-mudi di negeri ini yang menyandang kitap suci, hilir mudik silih berganti dan pulang pergi mengaji. Meskipun ada tetapi mungkin susananya tidak seramai seperti di kota Santri. Ya begitulah karena Tanjungpinang bukan berjuluk kota Santri melainkan Kota Gurindam negeri Pantun.

Apa yang dapat ditonjolkan dari kekhasan kota ini ? Jawabannya tentu Gurindam dan Pantun yang jarang ditemukan di kota-kota lain di Indonesia. Kemudian bagaimana kita bisa beramai-ramai melihat, menyaksikan dan memandang dari dekat Gurindam itu ? Anda bisa berkunjung ke tepi laut tepatnya didepan rumah dinas Gubernur Kepri. Disana Anda akan menemukan Gurindam yang terbuat dari lempengan kuningan dengan huruf timbul. Mulai dari Gurindam pasal ke 1 sampai dengan pasal ke 12. Kemudian Anda juga bisa berkunjung ke Pulau Penyengat, tidak jauh dari rumah dinas Gubernur Kepri itu. Pulau Penyengat adalah tempat dimana Gurindam 12 itu ditulis. Kita semua tentu sudah mengenalnya. Beliau adalah Raja Ali Haji yang sangat termasyhur hingga kepenjuru negeri.

Membaca Gurindam tentu berbeda dengan mengaji. Bila di kota Santri tiap pagi dan sore muda-mudinya hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji, tetapi di kota Gurindam tidak demikian. Tidak pula muda-mudinya tiap pagi dan sore hilir mudik silih berganti pulang pergi membaca Gurindam. Tidak demikian. Tak tahulah kenapa ? Yang pasti ada nilai-nilai yang hidup didalam masyarakat yang berbeda antara kota Santri dan Kota Gurindam. Ada nilai-nilai religi yang sudah memasyarakat, hidup dan berkembang di Kota Santri itu, yang setiap saat dapat dilihat dengan jelas oleh mata kita. Nilai-nilai religi itu tidak ditemukan di kota Gurindam. Karena kota Gurindam lebih berorientasi kepada nilai-nilai budaya dan adat istiadat Melayu. Apakah nilai-nilai itu kemudian hidup dikalangan muda-mudi saat ini ? Tak tahulah…

Sekelumit gambaran tentang suasana di kota Gurindam yang bernuansa kultur Melayu itu yang akan saya bagi kepada kalian semua. Saya telah menelusuri tiap ruas dan sudut jalan di kota Gurindam sore itu. Sulit sekali menemukan nuansa Melayunya. Saya pergi ke Melayu Square, tidak terlihat kental nuansa Melayunya. Mungkin karena Melayu sudah bercampur Square. Itu sebabnya barangkali kenapa tempat itu tidak diberi nama ”Melayu Beleter”. Lalu Saya melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Kemudian Saya berhenti di tepi jalan dan menyaksikan sebait pantun yang tertulis di bak sampah yang terbuat dari bahan plastik/fiber. Harus dari dekat (jarak 1- 4 meter) untuk bisa membacanya. Terlihat pula logo salah satu kementerian di Republik ini dan salah satu SKPD di daerah ini. Oh,.. berarti ini milik Pemko. Tentu jumlahnya banyak, karena Pemko yang mengadakannya dan bukan si Pulan.

Aku mengamati dengan seksama tong/bak samapah itu. Sungguh menarik, di tong/bak sampah berukuran kecil itu pun dihiasi Pantun yang menggambarkan ciri-ciri dan nuansa Melayu. Berapa banyak tong/bak sampah yang ada maka ada sebanyak itu pula bait-bait pantun dituliskan. Pantun yang berisikan nasehat untuk selalu menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, ditujukan kepada masyarakat yang membuang sampah ditempat itu. Meskipun tempat itu tergolong kotor, namun nilai-nilai budaya melayu akan selalu ditumbuh kembangkan dimanapun jua. Nilai-nilai budaya Melayu tidak boleh dianggap sampah yang akan habis bila dibuang. Nilai-nilai budaya Melayu harus hidup terutama dikalangan muda-mudi.

Tapi sayangnya orang tualah yang selalu membuang sampah di tempat itu. Sedangkan golongan muda-mudi lebih suka memilih areal yang luas dan terbuka sebagai tempat pembuangan sampah. Sambil melaju kencang dengan sepeda motor, mereka lebih senang mencampakkan sampah di tempat terbuka itu.

Kita tinggalkan soal sampah. Kemudian aku melanjutkan ke tempat jajan untuk mencari makanan khas melayu. Akhirnya aku temukan juga makanan itu antara lain kueh wajik, lakse dan kueh due sebilek. Meskipun dijual tidak pada satu tempat/kedai/warung/toko/ khusus yang menyajikan makanan khas Melayu, tetapi Aku bersyukur dapat menemukannya. Sama halnya ketika aku di Melayu Square tadi. Tidak semuanya makanan yang dijual merupakan makanan kahas Melayu. Tidak semuanya yang disajikan para pedangan itu memiliki ragam dan corak Melayu. Tak mengapalah, mungkin di tempat lain aku bisa menemukannya, seperti ditempat dijualnya oleh-oleh asli Tanjungpinang.

Karena waktu berbuka puasa sudah hampir tiba maka aku tak sempat mencari tempat lain. Aku akhirnya singgah di salah satu Restaurant di Kota Gurindam untuk berbuka puasa. Ditempat itu pun aku masih sempat mengamati ragam, gaya, bahasa, peralatan, tulisan dan lain-lainnya yang akan aku pertanyakan kepada pewaris adat Melayu, pewaris tahta melayu, pewaris kemajemukan Melayu dan pewaris-pewaris lainnya. Sebuah pertanyaan untuk mereka. Apakah nilai-nilai Gurindam 12 itu sebenarnya masih hidup atau tinggal slogan saja ditengah-tengah masyarakat melayu Tanjungpinang saat ini ?.

Berbeda dengan suasana kota Santri yang nilai-nilai religinya lebih mudah dipandang dalam bentuk perilaku dan dirasakan dengan kelapangan hati. Sedangkan susana kota Gurindam, nilai-nilai budayanya ada tetapi sulit tercermin dalam perilaku dan tidak nampak dipandang mata. Bisa dirasa tapi tidak bisa diraba.”

”Duhai Mak dan Bapak,…… ?
berikanlah izin daku
untuk menuntut ilmu
pergi ke rumah guru
nginap di kota Gurindam
banyak budayawan
tumpuan orang-orang seni
Mengkaji ilmu sastra
sopan santun selalu diperaga
hidup indah dan bahagia
sampai di akhir masa”

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 15, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: