Santun Pendusta, S.Sos


Santun Pendusta, S.Sos

Namaku, Santun Pendusta, S.Sos. Aku selalu disapa dengan tiga panggilan. Pertama, San, kedua, Endus dan ketiga, Tata. Tak ada seorangpun yang menyapa Ku dengan sapaan “S.Sos”. Meskipun demikian Aku lebih senang bila dipanggil dengan sapaan “Maun” (fiktif). Ya, nama kecil ku dulu. Aku memanggil diriku dengan nama itu termasuk keluarga dan juga tetangga  ku diwaktu kecil dulu.

Sekarang aku jarang sekali mendengar nama manja itu. Aku dapat memakluminya karenab mereka tidak lagi bersama ku dan aku menyadari bahwa kami tidak lagi berada pada waktu itu melainkan waktu sekarang dan lingkungan baru yang sudah jauh berubah.

Ya, sebuah waktu yang telah mengantarkan aku meraih gelar Sarjana Sosial  di salah satu perguruan tinggi yang hampir saja berubah status menjadi negeri. Konon kabarnya, gara-gara dusta, PT itu, Dosen, Pegawai TU, dan Mahasiswanya gagal berubah status menjadi negeri dan tetap bertahan dengan statusnya yang lama yaitu swasta. Tetapi ada pula sebagian diantara mereka yang masih terus berjuang untuk menjadi negeri. Terpulanglah. Bagi aku, setelah meraih gelar S.Sos tak akan kelihatan perbedaan antara PT Swasta dengan Negeri. Kan gelarnya sama-sama S.Sos. Tak ada S.Sos N (Negeri) dan tak ada pula  S.Sos S (Swasta).

Gelar yang selalu melekat diujung nama ku itu menuntut aku selalu harus berpenampilan rapi supaya kelihatan santun dan intelek. Aku harus mampu berlomunikasi dengan baik, ringkas, padat, diplomatis, teoritis dan juga akademis.

Itulah konsekwensi mengade-ngade  akibat penambahan gelar diujung nama ku. Sebuah nama pemberian dari orang tua ku yang diperoleh dari ketua Preman yang pernah menjadi sahabat karib bapak ku. Nama terhormat dari persahabatan sejati yang pernah terjalin dulu.

Menurut Bapak Ku, nama “Santun Pendusta” itu merupakan hadiah yang tak terhingga nilainya. Ketua Preman yang hobinya merampok dan keluar masuk penjara itu berjanji akan mengakhiri tabiat buruknya bila seandainya Ibu ku  yang tengah mengandung 9 bulan itu kelak melahirkan seorang anak lelaki dengan berat badan diatas rata-rata kebanyakan berat badan bayi. Bahkan Ia mematok dengan angka diatas 4,5 kg.

Ia katakan, “Aku bersumpah tidak akan mengulangi perbuatan jahanam itu dan aku akan berbertobat menjalankan sisa hidup ini dengan normal. Syaratnya pertama, istri mu melahirkan anak laki-laki dengan berat badan diatas 4,5 kg dan kedua, bila itu benar terjadi maka syarat selanjutnya engkau mau menerima pemberian nama dari ku untuk anak mu. Namanya, “Santun Pendusta” (fiktif belaka).

Bapak ku hanya tersenyum dan sama sekali tidak menanggapinya. Maklumlah ucapan ketua Preman yang sangat ditakuti banyak orang termasuk polisi yang takut jenuh dan menjadi banyak kerjaan gara-gara ulahnya.

Bapak ku bilang, mana mungkin ibu ku melahirkan bayi dengan berat badan diatas 4,5 kg karena sudah delapan anaknya, tak satupun yang terlahir dengan berat badan mencapai 3,5 kg. Apalagi diatas 4,5 kg. Itu taruhan mengada-ngada yang keluar dari mulut seorang preman yang selalu menipu siapapun, kecuali kepada Bapak ku.

“Nak tobat ke,.. nak tidak,.. itu urusan ngkau”. Dalam hati bapak ku berucap

Bapak ku bilang, “Mau dikasi makan apa istri ku sementara selama ini, kemiskinan justru membuat kedelapan anak ku tak terurus dengan baik dan mereka semua termasuk aku tidak pernah mendapatkan gizi yang cukup dengan pola makan yang teratur dan sempurna. Aku hanya seorang makelar tanah yang punya penghasilan tidak menentu“.

Disamping itu, Ibu ku yang dua tahun sekali melahirkan itu kelihatan kurus kering karena kurang gizi dan lelah mengurus delapan kakak-kakak ku. Ibu ku tak sempat mengurus badannya lagi.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 5, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: