POTENSI SUMBER AIR BAKU DI PULAU BINTAN, PROPINSI KEPULAUAN RIAU.


  1. Curah hujan rata-rata tahunan di wilayah studi/ Pulau Bintan (Kec. Bintan Timur, Kec. Gunung Kijang, Kec. Bintan Utara, Kec. Teluk Sebong dan Kec. Teluk Bintan) dari tahun 2000-2005 adalah 2.300 – 3.800 mm/tahun. Kelembaban udara rata-rata bulanan terendah terjadi pada bulan Februari yaitu 83,17%, sedangkan tertinggi pada bulan Desember yaitu 88%, serta temperatur udara bulanan tertinggi berlangsung pada bulan Mei, yakni mencapai 27,28° C, sedangkan terendah pada bulan Desember mencapai 26,18° C, dimana terjadi infiltrasi (resapan) rata-rata sebesar 209.71 mm/tahun atau 60.4% dari curah hujan.
  2. Bentang alam dataran pada wilayah studi/ Pulau Bintan  (Kec. Bintan Timur, Kec. Gunung Kijang, Kec. Bintan Utara, Kec. Teluk Sebung dan Kec. Teluk Bintan), menempati daerah dataran pantai yang relatif sempit dan meluas di sekitar muara sungai yang tergolong besar seperti di Kawal, setempat dijumpai di pedalaman pada daerah antar perbukitan.
  3. Hidrogeologi Kecamatan Bintan Timur dan Gunung Kijang, menunjukkan:
    1. Endapan aluvium terdiri dari pasir dan kerikil, umumnya menempati daerah sepanjang dataran pantai timur Kecamatan Gunung Kijang, Formasi Goungon yang berumur Tersier – Kuarter terdiri dari batupasir tufan, batu lanau pasiran, dan tuf pasiran melampar luas di bagian tengah Kecamatan Gunung Kijang, sedangkan granit berumur Trias melampar luas di bagian selatan, tepatnya di wilayah Kecamatan Bintan Timur.
    2. Lapisan pembawa air (akuifer) yang utama di daerah studi adalah pasir lempungan, pasir dan batupasir tufan, yang umumnya lepas sampai agak padu.
    3. Tinggi muka air tanah berkisar antara 0,4 hingga lebih dari 7 m di bawah muka tanah setempat. Aliran air tanah mengalir dari tengah ke arah selatan dan timur.
    4. Imbuhan air tanah dangkal seluas area 584,98 m² yang meliputi Kecamatan Bintan Timur dan Gunung Kijang adalah 212,57 juta m3/tahun. Resapan air hujan ini sebagian besar akan mengalir kembali ke permukaan memasok air permukaan (sungai efluen).
  4. Hidrogeologi Kecamatan Bintan Utara, Teluk Sebong dan Teluk Bintan, menunjukkan:
    1. Endapan aluvium yang terdiri dari lempung, pasir dan kerakal, umumnya menempati daerah sempit di dataran pantai dan muara sungai. Formasi Goungon yang berumur Tersier – Kuarter terdiri dari batu pasir tufan, batu lanau pasiran, dan tuf dasitan melampar luas dibagian tengah, satuan andesit porfir setempat-setempat dibagian timur, sedangkan granit berumur Trias berada setempat dibagian barat dan utara daerah studi.
    2. Lapisan pembawa air (akuifer) yang utama di daerah studi adalah pasir lempungan, pasir, batu pasir tufan, setempat kerikilan.
    3. Tinggi muka air tanah sangat beragam, dalam kisaran rata-rata antara 0,5 hingga lebih dari 6 m di bawah muka tanah setempat, dan secara umum mengalir dari tengah ke utara, barat, dan selatan.
    4. Di wilayah Kecamatan Bintan Utara dan Teluk Sebong, Imbuhan air tanah dangkal berasal dari resapan air hujan sebesar 247,04 juta m3/tahun, sedangkan di Kecamatan Teluk Bintan 43,125 juta m3 / tahun. Resapan air hujan ini sebagian besar akan mengalir kembali ke permukaan memasok air permukaan.
  5. Potensi air tanah dalam di daerah studi/ Pulau Bintan (Kec. Bintan Timur, Kec. Gunung Kijang, Kec. Bintan Utara, Kec. Teluk Sebong dan Kec. Teluk Bintan) secara kuantitas tergolong rendah tetapi dengan kualitas baik. Setempat potensi air tanah yang tergolong sedang hanya terdapat di sekitar Kangka Kawal – Karubi dan disekitar muara S. Jago. Air tanah dangkal di sekitar pantai dan beberapa tempat pada daerah rawa-rawa di pedalaman menunjukkan kualitas jelek, karena kandungan khlorida dan besi yang melebihi ambang batas yang diizinkan, sehingga diperlukan pengolahan secara cermat sebelum dimanfaatkan sebagai pasokan air bersih untuk penduduk.
  6. Dalam upaya mempertahankan kelestarian air tanah di wilayah Kecamatan Bintan Utara, Teluk Sebong dan Teluk Bintan, pemanfaatan sumberdaya air saling menunjang mutlak diperlukan, dengan prinsip sumberdaya air tanah merupakan alternatif terakhir untuk pengadaan air baku.
  7. Potensi air permukaan di wilayah Kec. Bintan Timur dan Gunung Kijang antara lain: sungai, danau dan rawa. Sungai-sungai di daerah Kp. Bugis dan Tanjung Kapur, tepatnya DAS Kawal dilihat dari segi kualitas dan kuantitasnya memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai sumber air baku. Sedangkan danau Kolong Enam dan Sei Pulai sebagai sumber air baku PDAM perlu dioptimalkan pemakaiannya.
  8. Untuk Wilayah Kec. Bintan Utara, Kec. Teluk Sebong dan Kec. Teluk Bintan, hasil penghitungan debit air permukaan menunjukkan bahwa DAS Jago-Bulan, DAS Ekang-Anculai, DAS Kangboi dan DAS Bintan, ditilik dari kuantitas dan kualitasnya memiliki prospek baik untuk dikembangkan sebagai sumber air baku bagi berbagai keperluan. Sedangkan Waduk Lagoi dan Lobam perlu dipertimbangkan sebagai contoh untuk pengembangan suplai air permukaan untuk daerah Bintan Utara, Teluk Sebong dan Teluk Bintan.
  9. Perhitungan debit andalan air permukaan pada 5 DAS yang di studi  (DAS Jago, DAS Ekang-Anculai, DAS Bintan, DAS Kangboi, dan DAS Kawal), menunjukkan:
    1. Debit aliran andalan rata-rata Aliran Langsung, sebesar 6,36 m³/dtk.
    2. Debit aliran rata-rata Aliran Air Tanah, sebesar 7,73 m³/dtk.
    3. Debit aliran total, sebesar 14,63 m³/dtk.
  10. Prakiraan kebutuhan air di Pulau Bintan, hingga tahun 2015 menunjukkan:
    1. Kebutuhan domistik, sebesar 1,2462 m³/dtk.
    2. Kebutuhan non-domistik, sebesar 7,707 m³/dtk.
    3. Kebutuhan pertanian, sebesar 6,240 m³/dtk.
    4. Total kebutuhan, sebesar 15,193 m³/dtk.
  11. Potensi ketersediaan air di Pulau Bintan (khususnya di 5 DAS yang di studi) dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku di pulau Bintan (Domestik, Non Domestik, dan Pertanian), walaupun pada tahun 2015 diperkirakan mengalami kekurangan ketersediaan air sebesar  0,563 m3/dt.

Saran :

  1. Seiring dengan pemanfaatan air tanah yang terus berkembang, instansi yang berwenang menangani pengelolaan air tanah di daerah ini perlu melakukan tindakan tegas dalam penertiban kegiatan pemanfaatan air tanah untuk berbagai keperluan, didukung dengan peraturan daerah (PERDA) sebagai kelengkapan pranata hukumnya, terutarna agar setiap kegiatan pemboran harus disertai informasi mengenai kondisi litologi, uji pemompaan, dan data terkait lainnya. Informasi tersebut dapat dipergunakan untuk pertimbangan teknis pengambilan air tanah, serta perhitungan rinci imbuhan air tanah di daerah ini pada masa mendatang.
  2. Mengingat keterbatasan akan sumber daya air tanah di daerah ini, dimana imbuhan air tanah relatif kecil, sedangkan kebutuhan rata-rata akan terus meningkat di masa mendatang, maka disarankan agar pemanfaatan sumberdaya air permukaan (khususnya di 5 DAS yang di studi) menjadi pilihan utama, terutama untuk memasok kebutuhan air bersih (domestik, non domestik, pertanian dan lain-lain penggunaan). Namun demikian, untuk memenuhi standar kualitas air minum harus melalui pengolahan secara lengkap, berupa: koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan chlorinasi. Selain itu, perlu dilakukan upaya-upaya pembangunan infrastruktur guna menampung ketersediaan air, melakukan pengolahan (bila diperlukan), transmisi, dan distribusi.
  3. Untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan sumber air permukaan, perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
    1. Perlu dipasang alat ukur debit sungai untuk beberapa sungai besar di lokasi studi, antara lain: S. Jago (DAS Jago), S. Ekang-Anculai (DAS Ekang-Anculai), S. Bintan (DAS Bintan), S. Kangboi (DAS Kangboi), dan S. Kawal (DAS Kawal). Hal ini dilakukan agar besarnya aliran permukaan dapat diketahui secara tepat, serta bermanfaat untuk berbagai kepentingan lainnya, mengingat sumber daya air permukaan memiliki arti penting untuk memasok kebutuhan air yang semakin meningkat.
    2. Perlu dijaga kelestarian kawasan hutan lindung di Wilayah Pulau Bintan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan, yaitu seluas 3.875 Ha. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya (kawasan hutan lindung). Kawasan hutan lindung dimaksud, adalah:

1)      Hutan lindung Jago terletak di Kecamatan Bintan Utara.

2)      Hutan lindung Gunung Bintan Kecil terletak di Kecamatan Teluk Sebong.

3)      Hutan lindung Gunung Bintan Besar terletak di Kecamatan Teluk Bintan.

4)      Hutan lindung Gunung Kijang, Gunung Lengkuas dan hutan lindung Sungai Pulai, terletak di Kecamatan Bintan Timur

  1. Perlu dijaga kelestarian kawasan resapan air, yaitu kawasan yang mampu menyalurkan air hujan sebanyak-banyaknya kedalam tanah (akuifer) sehingga mampu berfungsi sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya (kawasan resapan air). Di Pulau Bintan, diperoleh 3 (tiga) kelas kawasan potensi resapan air, yaitu potensi rendah, sedang dan tinggi. Kawasan resapan air diperoleh dari hasil overlay peta lereng, jenis tanah dan porositas akuifer. Kawasan yang dijadikan sebagai kawasan resapan air adalah kawasan dengan potensi resapan tinggi, yaitu mencapai luas 18.802 Ha.
  2. Perlu dijaga kelestarian kawasan perlindungan setempat, meliputi: kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, dan sekitar danau/ waduk.

Kawasan sempadan pantai merupakan kawasan yang diharapkan mampu mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan sempadan pantai. Penetapan kawasan ini didasarkan pada kriteria-keriteria sebagai berikut:

  • Daerah tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
  • Daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
  • Penyebaran kawasan perlindungan setempat berupa sempadan pantai, terdapat di seluruh wilayah Pulau Bintan.

Kawasan sempadan sungai merupakan kawasan yang diharapkan mampu mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan sempadan sungai. Penetapan kawasan ini didasarkan pada kriteria-keriteria sebagai berikut:

  • Garis sempadan sungai besar, sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai yang berada di luar kawasan permukiman.
  • Garis sempadan sungai kecil/ anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman, sekurang-kurangnya 50 m dari kiri kanan sungai.
  • Untuk sungai di kawasan permukiman, berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 m.

Kawasan sempadan danau/ waduk merupakan kawasan yang diharapkan mampu mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan sempadan danau/ waduk. Penetapan kawasan ini didasarkan pada dataran sepanjang tepian danau/ waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/ waduk antara 50 – 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Penetapan sempadan danau/ waduk, sebagai potensi sumberdaya air permukaan. Waduk-waduk yang terdapat di Pulau Bintan yaitu waduk Muara Jago, Waduk Muara Ekang Anculai, Waduk Muara Bintan, Waduk Muara Kangboi, dan waduk Daratan Kawal.

  1. Perlu dilakukan usaha-usaha untuk dapat menampung air permukaan sebesar-besarnya pada saat musim hujan, berupa: 1) estuary reservoir (waduk di daerah muara), 2) inland reservoir (waduk didaratan), 3) excavated reservoir (waduk dengan volume tampungan digali), 4) ground water stroge (tampungan air tanah). Selain itu, perlu juga dilakukan usaha-usaha konservasi air dan tanah dengan menggunakan metode (1) secara agronomis, (2) secara mekanis, dan (3) secara kimia.
  2. Penetapan rencana pengembangan penampungan air (reservoir) harus memperhatikan Revisi RTRW Kabupaten Kepulauan Riau (2006-2015), lokasi potensial untuk pembangunan Estuary Reservoir/ Excavated Reservoir dan Inland Reservoir/ Excavated Reservoir dapat dilihat Tabel 7.1.

Lokasi Potensial Waduk

Estuary Reservoir/ Excavated Reservoir

No Lokasi Desa/ Dusun DAS
1 Teluk Busung Busung

Simpang Busung

Jago-Bulan
2 Teluk Bintan Tanah Merah Penaga

Rekah

Ekang-Anculai
3 Teluk Bintan Kubu

Bintan Buyu

Bintan
4 Teluk Bintan Gesi

Tembeling

Bintan Buyu

Kangboi-Carukyu
5 Teluk Kawal Gunung Kijang

Teluk Bakau

Kawal

Inland Reservoir/ Excavated Reservoir

No Desa/ Dusun DAS Sub – DAS
1 Desa Rupang Jago-Bulan Jago-Jelam
2 Desa Jacubung Jago-Bulan Bulan-Tongkan
3 Desa Ekang Ekang-Anculai Ekang
4 Desa Puibenjan Ekang-Anculai Anculai
5 Desa Bintan Buyu Bintan Bintan
6 Bt. Berum Kangboi Kangboi
7 Balairejo Kangboi Kangboi-Lome
8 Toapaya Kangboi Cikolek
  1. Perlu diperhatikan upaya-upaya untuk menjaga “security of supply” yang meliputi: 1) konservasi sumber daya air, 2) pengaturan dan pembatasan pengembangan kawasan yang dapat merugikan sumber daya air, 3) peraturan dan penegakan hukum (law infocement) yang tertib dan tegas, 4) pembentukan lembaga pengelolaan sumber daya air yang melibatkan pihak-pihak (pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota, swasta dan investor), 5) pembentukan lembaga pengawasan (masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi, dan organisasi independent), dan 6) tetap selalu memperhatikan kelestarian dan suistainability lingkungan.

Sumber :  Dinas PU Provinsi Kepri, 2005

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 3, 2010, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: