Senyum Palsu


Senyum Palsu

Senyum memang memiliki banyak makna. Meskipun demikian, Saya menyimpulkan senyum itu dengan dua katagori yaitu senyum sejati dan senyum palsu. Senyum sejati adalah senyum yang keluar dari wajah seseorang yang secara psikis tidak sedang dalam kondisi stress atau mengalami gangguan jiwa  atau gila. Senyum palsu adalah senyum yang keluar dari wajah seseorang yang tidak sehat jiwanya  (psikis) karena berada dalam berbagai tekanan jiwa, ketidakpastian, stress atau sedang mengalami gangguan jiwa atau gila.

Seseorang yang secara pisik dinyatakan sehat jiwa dan akal pikirannya tpada kenyataannya juga idak selalu menebar senyum sejati dari wajahnya tetapi sebaliknya orang yang secara pisik dinyatakan tidak sehat jiwa dan akal pikirannya sudah pasti menebar senyum palsu dari wajahnya. Tinggal terpulang kepada orang-orang sehat menyikapi senyum palsul itu, dianggap senyum sejati atau senyuman palsu dan mesti dilihat dengan ketulusan hati pula kita.

Senyum sejati merupakan respon diri seseorang dalam menyikapi berbagai situasi dan kondisi kegembiraan (senang) yang tengah Ia hadapi dan merupakan stimulasi dari keadaan yang sebenarnya. Contohnya, Ia tersenyum ketika menyaksikan sebuah pertunjukan komedi dan bahkan senyum itu lepas berubah menjadi tawa. Ia gembira dan senang karena hatinya terhibur. Contoh lain, Ia tersenyum ketika menatap wajah, perilaku, atau penampilan seseorang yang Ia senangi dan Ia seketika akan cemberut, berpaling wajah atau marah bila hatinya terusik dan tidak menyenangkan.

Pernah suatu ketika Nabi kita dilempar  hingga berdarah, tetapi Beliau justru tersenyum, tidak membalas perbuatan orang yang melempar Baginda itu dengan batu, tidak merasa hatinya terusik, tidak juga marah, tidak mengumpat, tidak menghina apalagi menghujat dengan kata-kata kotor dan mendoakan orang yang melempar itu supaya mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Justru sebaliknya, Baginda mendoakan agar orang tersebut diberikan pengampunan dari Allah dan mendapatkan hidayah Allah untuk menerima kebenaran yang dibawa Baginda di muka ini. Baginda tersenyum karena hatinya tidak tergores dan terluka.

Tidak seperti kebanyakan orang-orang yang sering tersenyum tetapi didalam hatinya justru menghujat. Mereka tersenyum manis walau hatinya benci. Mereka tersenyum ria walau hatinya menangis dan mereka tersenyum mesra tetapi hanya untuk mengatakan kebencian di dalam hati.

Atau mereka tersenyum lepas karena memang pikirannya tak mampu lagi membedakan yang mana kejujuran dan yang mana kemunafikan. Mereka tidak tahu disaat-saat kapan dan dalam situasi dan kondisi hati dan jiwa seperti apa mereka harus tersenyum hingga tertawa. Apalagi diujung senyuman mereka itu tersimpan harta, tahta dan wanita yang bakal dipanen beberapa waktu kemudian. ”Palsu, palsulah ! Emangnya gue pikirin. Cuma modal senyum doang kok. Masa bodoh”. Mungkin dalam hati mereka berkata demikian.

Senyum sejati seyognya berasal dari hati dan pikiran yang tidak terusik oleh sesuatu yang menyakitkan baik secara pisik maupun kejiwaan atau sesuatu yang pamrih. Itulah senyuman yang sebenarnya. Tulus dan iklas serta tersenyumlah dengan sebenar-benarnya senyum. Bukan senyum palsu apalagi senyum dengan penuh kemunafikan.

Bukankah senyum itu merupakan sebagian dari iman ? Maka tersenyumlah dengan senyuman yang tulus, ikhlas, jujur, adil tanpa kepalsuan dan kemunafikan.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 2, 2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: