Ape Tande Saye Melayu ? ”Tak Ade”


Ape Tande Saye Melayu ?

”Tak Ade”

Ape tande Die Melayu ?
“Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.
Ape tande Mereka Melayu ?
“Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.
Ape tande Die Melayu ?
“Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.
Ape tande Kite Melayu ?
“Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.
Ape tande Kami Melayu ?
“Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.
Ape tande Saye Melayu ?
Tak ade”.

”Tak ade” kesimpolan yang Saye dapat untuk diri sendiri, dari usaha mencari tahu lewat Website/Situs yang menyajikan artikel/berita/tulisan/sejarah/opini/pendapat dan lain sebagainya tentang ape tande Saye Melayu. Seperti yang disajikan Website ini : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu hanye sedikit menjawab ”Ape tanda kalian Melayu”

Setelah membaca dan menyimak berbagai referensi khususnya website diatas, membuat saye menjadi tergiring untuk berpikir mundur jauh kebelakang, pada masa silam. Suatu mase dimane orang-orang Melayu masa kini belum hidop dan belom bise bebual-bual hal ihwal Melayu di kedai kopi atau disofa kantor yang empuk. Apelagi mendirikan kerajaan Melayu baru, habislah mereka dibabat Pasukan Balatentara Majapahit maupun Sriwijaya atau Para Soltan dan Raje-Raje Melayu karena dianggap penghianat dan  durhake.

Saye memang punye banyak kekurangan. Salah satunye tak bise dan tak suke berpikir mundur jauh ke belakang. Itu sebabnye dulu mata pelajaran sejarah di sekolah tidak pernah berganjak diatas nilai 8  (delapan), atau tidak pernah mendapat nilai 9 (sembilan) yaitu nilai yang mampan untuk mata pelajaran sejarah dan ukuran standard memory untuk menyimpan peristiwa pada masa lampau kedalam ingatan.

Bile memory ingatan Anda kuat, cube tengok situs : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu atau dari referensi lainnya untuk memahami makna Melayu pada masa silam, suatu masa dimana makna Melayu itu jelas dan suatu masa dimana kerajaan Melayu itu pernah berkuasa, kemudian mundur dan bangkit kembali. Hanya saja ada yang tahu dan banyak pula yang tidak tahu kapan mulai bangkitnya kembali Kerajaan Melayu itu.

Apakah dimulai pada tahun 2000 hingga sekarang, yang ditandai dengan terbentuknya ”kerajaan-kerajaan Melayu” modern yang bersifat formal ?. Yaitu suatu ”kerajaan” atau pembentukan organisasi kemasyarakatan melayu yang jelas siape pendirinye, ade AD/ART, jelas pula tempat kedudukannye, jelas tujuan para pendirinye dan jelas pulak kegiatan usahanye yang pasti memberikan manfaat bagi para pendiri dan pengikotnye.

Terlepas apakah ”kerajaan-kerajaan” itu menggunakan strata simbol komunikasi melayu klasik dengan sebutan ”Datok, Datin, Setie Usaha, Datok Bendahara, Hulu Balang, Panglime” dan lain sebagainya atau cukup dengan menggunakan strata simbol komunikasi organisasi modern seperti ”Ketua, Sekretaris, Bendahara” dan lain sebagainya. Tetapi syukurlah, tak ade pulak yang menggunakan sebutan ”Raje atau Permaisuri, Presiden atau Ibu Negeri” bagi pemimpin Melayu dan istrinya. Mungkin,.. Itulah tande orang Melayu itu sangat tahu diri dan takot kualat.

Namun, apakah itu tande-tande Melayu itu bangkit bersatu ? Ataukah justru sebaliknya tande-tande kemunduran Melayu akibat dianggap susah dan tak mau bersatu padu dalam sebuah ikatan budaya, organisasi dan kepentingan ? Ataukah itu tande-tande usaha yang hanye untuk ingin menambah suku Melayu secara kwantatif saje, sebab seperti yang dilansir pada Wikipedia menjelaskan bahwa, ”Menurut sensus tahun 2000, suku Melayu meliputi 3,4% dari populasi Indonesia dan mendiami beberapa propinsi di Sumatera dan Kalimantan Barat”. Dengan demikian diharapkan ”Kerajaan-kerajaan” Melayu yang banyak bermunculan itu mampu meningkat jumlah orang suku Melayu menjadi lebih besar dari angka diatas. Tidak saja bertambah karena faktor fertilitas dan Patrilisme, tetapi juga karena faktor alkulturasi dan asimilasi budaya. Maksodnye, bukan saja bertambah karena ada yang lahir yang bapaknya suku Melayu tetapi karena ada kawin sah atau ”perselingkuhan” antara suku melayu dengan suku yang lainnya yang ”dibenarkan” menurut AD/ART atau juge menurut konsep ”Tak Melayu Hilang Di bumi” yang mereka terjemahkan dan memiliki kecenderungan ”dipaksakan” oleh orang-orang Melayu yang paham tentang Melayu itu sendiri. Mungkin mereka ketakutan kalau jumlah suku melayu menjadi berkurang dari Populasi Indonesia dan bahkan Populasi Dunie (tak tahu berape pulak jumlahnye ye) itu, atau takot suku Melayu itu bise punah seperti punahnya sebuah kaom pada masa-masa kenabian dahulu.

Ape tande Saye Melayu ?

Tak ade”.

Apekahi Saye sudah menjadikan ”Ash hadu Allah illa ha hi lallah Wa ash hadu anna muhammadarasullullah” sebagai landasan fundamental dan mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Islam itu pada setiap sendi-sendi kehidupan ? Baik untuk pribadi, keluarga dan juga kepada masyarakat Melayu ?

Ape tande Saye Melayu ?

Tak ade”.

Apekah Saye sudah beradat resam Melayu seperti yang disampaikan M. Muhar Omtatok yang menjabarkan, ”Berturai bermakna mempunyai sopan santun baik bahasa dan perbuatan dan memegang teguh adat resam, menghargai orang yang datang, serta menerima pembaharuan tamaddun yang senonoh”. Bergagan bermakna keberanian dan kesanggupan menghadapi tantangan, harga diri dan kepiawaian. Bersahadat bermakna Orang Melayu disebut Melayu jika sudah mengucap kalimat syahadat, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul panutan. Anak Melayu lebih dahulu diperkenalkan mengaji al Qur’an, baru mengenal ilmu pengetahuan yang lain”.

M. Muhar Omtatok yang bermukim di luar Kepri tepatnya di Kota Medan Pulau Sumatera ini, menambahkan; Kata “Laailaha Illallah Muhammadarosulullah” sebagai gerbang keislaman, selalu dipakai Orang Melayu dalam berbagai amalan, karena melayu percaya bahwa semua amalan akan tidak tertolak dalam pemahaman Islam jika mengucap Laailaha Illallah Muhammadarosulullah. Makanya jika seorang anak berkelakuan menyimpang dari kaedah yang diatur, maka ia disebut, “Macam anak siarahan, Macam anak tak disyahadatkan”

Ape tande Saye Melayu ?

Tak ade”.

Apekah bahase Melayu yang juge bahase Ibu bapak saye itu tidak bise dipahami oleh orang-orang Melayu sekarang ini ? Apekah bahase Melayu yang Saye pergunakan sehari-hari itu sudah banyak bercampur dengan bahase ”Prokem” atau bahase-bahase intelektual yang banyak mengandung unsur kamuflase ?

Bukankah bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu ? Apakah dengan bisa berbahasa Indonesia berarti kita sudah bisa berbahasa Melayu ? Apakah dengan berbahasa Indonesia berarti sudah bisa memenuhi satu unsur penguatan dari Melayu itu sendiri ?

Ape tande Saye Melayu ?

Tak ade”.

Tak cukop hanye bersopan santun dalam bahasa dan perbuatan dan tak cukop juge hanye memegang teguh adat resam, tak cukop hanye  menghargai orang yang datang dan menerima pembaharuan tamaddun yang senonoh saje. Tak cukop, tak cukoplah. Kalau tak bise dan tidak diberi kesempatan  mencari makan di tempat dimane bumi dipijak disitu langet dijunjung, oleh orang-orang Melayu itu sendiri dan apelagi oleh para pendatang.

Ape tande Saye Melayu ?

Tak ade”.

Tak Hilang Melayu di Bumi, tapi hilang kesempatan bagi budak-budak  melayu mencari makan di luar maupun didalam perut bumi yang sudah dipetakan Melayu.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri, menjajah budak-budak melayu dengan kekuasaan dan lupe diri.

Bujur Lalu Melintang Patah, tidak berati hantam sajelah. Nak nikah kawin dengan adat resam ke,.. Kawin sirih ke,.. Kawin lari ke,.. Kawin kontrak ke,.. Kawin pakse ke,.. Kawin di usie dini ke, usie lanjot ke,.. Perselingkuhan budaye ke, kawin silang adat ke,.. Atau nak pakai baju kurong warne hitam ke,.. hijau ke,.. belang-belang ke,.. tak kesahlah. Bukan seperti itu.

Lalu macam ape ?”Tak ade”,.. Malas nak teroskan. Nanti terlalu banyak membace, tersinggong pulak, merajok pulak, mengumpat dan menghujat pulak nak nguros pindah suku pulak…”

Sambung. Nak cari referensi lagi.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 31, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: