BIROKRAT “SAPU JAGAT”


BIROKRAT “SAPU JAGAT”

Disudut kota Gurindam yang berjuluk Negeri Pantun itu, kami bertiga melewati malam dengan santai. Awalnya mata-mata kami lebih sering bergerak dibanding mulut ini. Kami  menatap lalu lalang orang-orang yang melangkah memecah malam dan mencari sesuatu. Tak tahulah entah apa gerangan yang mereka kehendaki.

Dalam pandangan Ku, beraneka ragam gerak dan gaya terukir dari wajah-wajah yang tak ku kenal. Tak ada satupun diantara mereka yang aku kenal. Lagi pula, aku memang tidak menatap tajam rupa-rupa itu. Sekilas saja, dan hanya selayang pandang.

Sesekali memang aku terperangah menatap sosok anak manusia yang berlawanan jenis kelamin itu. Dalam hati Ku berkata, ”Hmm,.. Mubazir”. Ya,.. Sungguh ”mubazir”, bila Ia tidak mensyukuri dan memanfaatkan kemolekan tubuh dan kecantikan wajah yang telah diciptakan Tuhan untuknya dengan baik. Maksud Aku, kemolekan tubuh dan kecantikan wajah hendaklah diiringi dengan perilaku dan hati yang mulia pula. Jangan seperti Selebritis yang hanya memiliki kemolekan tubuh dan kecantikan wajah saja, sedangkan perilaku mereka tidak memberi tauladan yang baik kepada para penggemar mereka. Bahkan membuat orang lain menjadi terperosok kedalam perilaku nista. Hmmm,.. ”Mubazir ” bukan ?

Tiba-tiba kawan Ku yang duduk disebelah kanan Ku berkata, ”Rupa-rupanya ditempat ini, tempat ngopinya para Kontraktor”. Aku tak bisa membenarkan dan tak bisa pula menyalahkan. Sebab para kontraktor yang Ia maksudkan itu hanyalah orang-orang yang tak pernah ku kenal. Dalam diam hati Ku berkata, ”Tak tahulah, entah kontraktor atau koordinator atau juga koruptor”. Rupa-rupanya mata kawan Ku yang satu itu lebih tajam menatap sesuatu. Mungkin Ia tak mau melewati malam itu dengan sia-sia dan mubazir. Ha,… Mubazir ? Mungkin ia dan mungkin juga tidak.

Mata-mata kami sudah mulai lelah menatap rupa dan melihat berbagai benda. Lalu aku mencoba melemparkan judul untuk dikomentari kedua kawan Ku itu. Seperti judul pada account Facebook ku saja. Tak ayal lagi, tentu judul klasik yang berisi masa depan anak-anak ku. Didalam judul itu selalu berisi kalimat pertanyaan yang panjang sepanjang ketidakpastian langkah Ku dan ketidakpastian masa depan anak-anak ku. Inilah makna yang tersirat dibalik judul yang selalu berubah-rubah. ”Kemana lagi tempat yang akan aku tuju untuk menjemput serpihan kesenjangan dan duit orang-orang intelektual yang tercecer akibat terjangan pujian di wajah mereka ? Siapa lagi kaum intelektual yang mesti aku temui untuk mengambil upah kerja mengelap keringat mereka yang keluar, akibat letih tertawa dan bangga dengan kemunafikan ? Atau mengambil upah kerja mengangguk-ngangguk hingga terbungkuk-bungkuk membenarkan kata-kata dan ucapan mereka yang sok pintar dan berlagak tahu segalanya itu ? Aku tahu, mereka anti melihat wajah cemberut dan geleng-geleng kepala saat mereke berbicara. Bila itu yang terjadi tentu tak ada upah dan nyaris membuat musibah.

Awalnya aku sengaja melontarkan sebuah topik yang diberi judul ”Birokrat Sapu Jagat”. Kedua orang kawan ku itu rupanya kurang tertarik dengan topik itu. Aku tidak mau ambil peduli mereka menanggapi atau tidak, yang penting mulut ini jangan lagi diam dan mata ini jangan lagi menatap wanita-wanita ”Mubazir” yang justru membuat waktu menjadi sia-sia dan mubazir. Tidak ada pertanyaan ataupun pernyataan yang keluar dari kedua mulut kawan ku itu. Tak mengapa asalkan keempat bola mata mereka sesekali diarahkan ke wajah ku sebagai pembicara tunggal. Ya,. Mereka juga menatap dan mendengarkan celoteh malam diujung pekan. Aku dapat merasakan mereka ada dalam pikiran Ku. Bola mata Ku sesekali dapat bersentuhan dengan bola mata mereka.

Aku tahu kedua kawan ku itu tidak menyukai judul ”Birokrat Sapu Jagat” yang memiliki tendensius dan kecenderungan akan mengkritik para birokrat atau memaparkan perilaku birokrat dengan kalimat dan bahasa yang pekat dan kritik sosial yang menyengat. Kawan ku itu tentu sudah sangat mengenal bagaimana aku memaparkan sesuatu. Maklumlah, sudah jutaan detik Kami saling mengenal dan jutaan detik pula kami saling memahami karakter dan pola komunikasi masing-masing.

Berawal dari pengamatan mata yang aku lakukan secara singkat terhadap kendaraan roda empat yang parkir maupun yang melintas didepan mata ini malam itu, aku kemudian berpikiran bahwa dapat dipastikan jumlah kendaraan roda empat di negeri gonggong ini terus bertambah. Jumlahnya saat ini pasti mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yang pasti dan yang aku tahu, jumlah itu bertambah satu yaitu mobil merk Livina yang baru saja dibeli kawan Ku dan didatangkan dari Jakarta beberapa bulan lalu. Yang pasti lagi, peningkatan jumlah kendaraaan roda empat itu lebih dari satu jumlahnya. Tapi sayang, aku tidak punya data yang pasti tentang berapa jumlah kendaraan roda empat di kota Gurindam sampai dengan saat ini, maupun peningkatan pertumbuhannya dalam satu tahun pasca berjalannya roda Pemerintahan Provinsi Kepri di Tanjungpinang ini ?. Aku harus mencari tahu dan berusaha untuk mendapatkannya melalui sensus ekonomi atau dari sumber data lainnya. Tetapi tentu tidak aku lakukan pada malam ini juga.

Peningkatan jumlah kendaraan roda empat di Tanjungpinang ini tidak terlepas dari tingginya kebutuhan penduduk terhadap barang transportasi darat setengah mewah itu. Menurut kemampuan daya beli Ku saat ini, mobil merupakan barang setengah mewah. Tidak seperti kawan ku yang duduk disebelah kiri ini, mobil merupakan barang mewah baginya. Kemampuan daya belinya saat ini berada sedikit lebih rendah dibanding daya beli ku. Tak tahulah, bisa saja berubah seketika nanti, bila warisan pusaka orang tuanya laku terjual. Jangankan mobil, menggandeng artis muda saja bisa Ia lakukan.

Kawan Ku itu memang selalu berpenampilan lusuh dengan ciri-ciri berpakaian yang unik dan jarang sekali dilakukan kebanyakan orang tua pada umumnya. Padahal usianya sudah 61 tahun namun Ia senantiasa selalu berpakaian kaos singlet ala binaraga meski tak kelihatan otot-otot kekar ditubuhnya. Hanya bulu-bulu dada yang sudah memutih yang kelihatan didadanya. Ia tak pernah ambil peduli cara berpakaian yang tepat dan benar di waktu pagi, siang ataupun malam. Ia tak mau ambil pusing, saat hujan ataupun panas. Ia tetap menggunakan kaos singlet itu. Cara kawan ku berpakaian memang bukan sebagai parameter mengukur kemampuan daya belinya tetapi hanya merupakan kebiasaan yang sering Ia lakukan. Pendapatan perkapitanya memang relatif masih rendah dibanding Aku dan kawan Ku yang satu lagi. Sangat jauh berbeda dengan kawan ku yang duduk di sebelah kanan ini. Mobil tidak lagi menjadi barang setengah mewah dan barang mewah baginya. Daya belinya berada jauh diatas kami. Kira-kira tujuh kali lipat diatas kami. Pendapatan perkapitanya juga sudah realitf tinggi. Pemenuhan kebutuhan akan kalori perhari, perminggu, perbulan, pertahun dan bahkan per lima tahun sekaligus sudah tidak diragukan lagi.

Aku dengan semangat melanjutkan pemaparan tentang ”Birokrat Sapu Jagat” kepada kedua orang kawan ku itu. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa ada sekitar 1000 lebih orang PNS yang beraktifitas di Ibu Kota Provinsi yang ke 33 di Indonesia ini sejak tahun 2004 lalu. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, keahlian dan golongan kepangkatan.

Untuk golongan III A (Sarjana S1) saja sudah berpenghasilan antara 3 – 7 juta perbulan. Belum lagi ditambah tunjangan sana-sani alias penghasilan yang diperoleh dari sana sini. Seperti honor untuk tiap kegiatan.  Bagi yang  oknum  birokrat yang bandel mereka juga mendapatkan pembagian fee dari para rekanan, mark up harga pengadaan barang dan jasa hingga perilaku korupsi yang kesemuanya itu dilakukan secara halus, tidak nampak dan sangat profesional sekali. Di Kepri mudah-mudahan saja Birokratnya tidak ada yang seperti itu.

Para Birokrat tidak saja berperan sebagai aparatur negara dan pelayan masyarakat tetapi dapat pula berperan dalam kapasitas yang lain. Jika Ia  sebagai pengguna anggaran, Ia juga bisa berperan sebagai penyedia jasa yang langsung maupun tidak langsung membelanjankan anggaran itu. Oknum Birokrat tersebut tak mau peduli apakah pekerjaan itu melalui proses pelelangan, penunjukan langsung atau swakelola. Sebagai pelayan masyarakat, mereka juga minta ingin dilayani kontraktor, konsultan dan masyarakat. Sebagai pemberi bantuan sosial, mereka juga minta ingin dibantu secara sosial. Bekerjasama dengan kontraktor konstruksi, mereka berperan sebagai pemasok material hingga ikut mencari tukang untuk dilapangan. Bekerja sama dengan Konsultan perencana, mereka ikut berperan aktif menyusun rencana pembagian keuntungan pribadi dan kolega sampai batas waktu serah terima pekerjaan dan berakhirnya batas waktu jaminan pekerjaan. Mencari rekanan penyedia pengadaan barang-barang kantor, mereka berperan sebagai pedagang alat tulis kantor. Menggeliatkan seni dan budaya ditengah-tengah masyarakat,  mereka berperan sebagai seniman dan budayawan komersil di  belakang pentas, panggung seni, topeng dan layar semu. Menggeliatkan para pengrajin kecil, mereka berperan sebagai pihak-pihak yang berusaha mencari pengrajin pemalas. Menggeliatkan usaha tani, justru mereka berperan sebagai distributor pupuk dan menjualnya kepada petani dengan harga yang cukup tinggi. Melakukan berbagai kegiatan sosialisasi produk hukum (Undang-undang/PP/Permen/PERDA), mereka berperan layaknya Lawyer. Melakukan berbagai kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Pelatihan, mereka berperan menjadi Tutor dan memberikan Bimtek dan pelatihan kepada Tutor yang mereka bayar untuk kegiatan itu agar mengurangi volume dan materi dan sisa anggarannya dibagi bersama-sama. Menggeliatkan industri kreatif masyarakat,  mereka berperan sebagai pengusaha home indsutri dan industri kreatif pula. Memang sungguh kreatif sekali para birokrat kita. Mengentaskan kemiskinan, mereka berperan sebagai orang-orang miskin yang perlu mendapat bagian keuntungan dari program-prgram pengentasan kemiskinan itu. Pemberantasan buta, mereka berperan sebagai orang-orang yang buta mata, hati dan perasaan, karena mereka tega mengambil bagian yang besar dari uang rakyat untuk memberantas buta melek itu.

Oleh karena itu, konsep pemangkasan peran birokrat perlu diterapkan ditengah-tengah masyarakat agar peran-peran masyarakat yang sudah diambil oleh birokrat dikembalikan pada porsi yang sebenarnya. Kalaulah semua peran dibabat habis oleh para birokrat, maka sangat layak bila kemudian kita menyebutnya dengan sebutan Birokrat Sapu Jagat bukan ?

Dalam benak Ku, ada sejumlah pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada Mr. Wikipedia setibanya di rumah. Pertanyaan itu tak lain seputar Birokrasi, Korupsi dan Peran Birokrasi itu sendiri. Aku ingin agar mata hati ini mampu melihat Peran Birokrasi itu secara seimbang. Bukan hanya bisa melihat dari mata hati negatif tetapi dapat pula menatap dengan mata hati positif.

Tidak dapat dipungkiri bahwa para birokrat/pengayom/pelayan masyarakat itu sudah banyak berbuat untuk kesejahteraan masyarakat dalam berbagai bidang. Prinsip-prinsip mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat  diatas kepentingan politik dan lain sebagainya menjadi salah satu landasan mereka berperan dan melakukan aktivitas.  Aku terdiam sejenak, dalam pikiran Ku hanya ada Mr. Wikipedia yang menolong Aku menjelaskan peran birokrasi itu secara ilmiah.

Aku masih ingat Websitenya dan bila kita browsing ketik : Wikedia pada mesin pencari google. Namu bila tdak ingin cukup Klik disini saja :

Aku terpakasa menyampaikan sedikit saja tentang Peran Birokrasi yang pernah aku baca di ruang Wikipedia. Dengarkan dan bacalah !

Peran birokrasi pada masa kolonial

Kekuatan kolonial di kepulauan Indonesia mempunyai kepentingan bagaimana mengendalikan seluruh wilayah dengan mempertimbangkan jarak, daratan dan wilayah antar negeri yang sangat besar agar tidak menyulitkan dalam melakukan eksplorasi sumber-sumber daya, selain dari itu perlu adanya partisipasi pasif, partisipasi aktif dari bumiputera sangat diperlukan, kolaborasi dalam partisipasi aktif ini tentunya dengan tidak boleh mengorbankan kekuasaan dan pengaruh kolonialisme.

Aku sungguh bersemangat memaparkan konsep Birokrat Sapu Jagat dalam perspektif sosiologi korupsi atau budaya korupsi. Kawan Ku yang berkaos singlet dan unik itu, sudah kelihatan lesu dan tidak bergairah mendengar paparan yang kurang begitu menarik baginya. Aku tahu, Ia ingin aku segera beralih dari judul yang menyebalkan hatinya itu. Biarlah, aku yakin dia juga tidak paham dengan apa yang telah kupaparkan barusan. Karena aku tahu betul topik atau judul yang paling Ia minati. Itu terwujud dari kedua bola matanya yang tidak terbelalak menatap wajah ku. Biasanya bila Ia senang, kedua bola matanya bagaikan mata burung hantu tengah menikmati Mid Night.

Kawan Ku yang satu lagi sejak dari tadi senyam senyum. Sesekali manis tetapi lebih banyak pekatnya terutama di penghujung paparan yang singkat tadi. Ketika aku berhenti memaparkan, nyaris tidak ada satupun pertanyaan maupun pernyataan yang keluar dari mulutnya tentang birokrat sapu jagat. Sejak dulu aku tahu Ia adalah seorang kawan yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Ia pandai mengelola emosi menjadi efektif pada situasi apapun. Ia bijak menentukan kata-kata, kalimat dan gerak tubuh lainnya yang Ia miliki menjadi nilai-nilai persahabatan mulia. Wajar bila status sosial ekonominya berada jauh diatas Aku dan kawan ku yang unik itu.

Ia kemudian angkat bicara dan menutup topik itu dan membuka topik baru tentang keberadaan salah satu organisasi massa (ormass) yang berorientasi kepada suku Melayu. Ia pandai sekali mengalihkan kosentrasi Ku. Ia tahu kalau Aku merupakan orang Melayu pertama yang punya keinginan pindah suku. Ia kemudian bertanya, ”Jadi pindah suku ya Boss ? Aku menjawab, ”Jadi”. Lalu Ia bertanya lagi, ”Suku Apa Boss ?”. Dan aku menjawab, ”Suku Gaol”. Ia tertawa dan tertarik ingin segera mendengarkan penjelasan Aku tentang Suku Gaol itu. Sabar ya,…

NGANTOK ! Bersambung …

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 24, 2010, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: