Kartini Figura


Kartini Figura

Oleh : Kherjuli

Kartini Figura

Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April tentu berbeda dengan Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember. Meskipun seorang Kartini dan berjuta-juta Ibu yang hidup dizaman sebelum dan setelah Kartini hidup memiliki kesamaan jenis kelamin (sex), tetapi hari Kartini dan hari Ibu memiliki dimensi yang berbeda. Salah satu dimensi itu dilihat dari perspektif kesetaraan gender.

Kartini telah meletakan landasan kesetaraan gender bagi kaum perempuan di Indonesia. Kesetaraan gender itu dimaksudkan agar perempuan Indonesia dapat berperan setara dengan kaum laki-laki dalam bidang. Kartini memulainya dengan berperan dibidang pendidikan, menuntut ilmu di bangku sekolah agar  mampu menulis dan membaca. Dengan demikian, kebodohan yang terus membelenggu kaum perempuan, perlahan-lahan bisa disingkirkan dari kehidupan sehari-hari dan kehidupan berbangsa. Hal itulah yang kemudian membuat bangsa Indonesia sampai hari ini mengenang perjuangan Kartini. Keanekaragaman sentuhan kegiatan dapat kita lakukan untuk mengenang jasa-jasanya, termasuk menuliskan kembali kisah dan nilai-nilai perjuangannya pada setiap ruang dan waktu.

Kartini Sejati

Kartini sejati adalah perempuan Indonesia yang sangat berjasa. Nilai-nilai perjuangannya tidak saja diperingati di tanah air tetapi juga di negara lain.  Tentu yang memperingatinya bangsa Indonesia sendiri dan bukan bangsa lain apalagi bangsa Belanda. Meskipun bangsa lain termasuk Belanda ada yang mengenal nilai-nilai perjuangan Kartini lewat sejarah, namun rasa nasionalisme mereka tentu lebih tertuju kepada wanita-wanita yang dianggap tokoh dan pahlawan di negaranya sendiri. Sebut saja seperti Ellizabeth di Inggris, Indera Gandhi di India, Bunda Teressa dan lain sebagainya.

Hari Kartini sudah ada jauh sebelum hari Ibu ditetapkan oleh PBB.  Berikut kisah segar terkait hari Kartini dan hari Ibu yang sengaja penulis sajikan untuk membuka cakrawala berpikir kita dari kejenuhan materi. Sebab penulis yakin sudah terlalu banyak tulisan/artikel/buku tentang  Kartini yang kita baca bukan ?

Pada bulan Desember menjelang datangnya hari Ibu (Mothers Day) tahun lalu, anak perempuan saya yang hampir menginjak remaja bertanya kepada Saya tentang latar belakang PBB menetapkan 22 Desember sebagai hari Ibu. Lalu Ia mencoba memaparkan pandangan streotipnya kepada saya. ”Pah,.. menurut Papah, Ibu-ibu yang mana yang yang melatarbelakangi PBB menetapkan hari Ibu ? Kan tidak semua Ibu-Ibu di dunia ini sebaik Mamah. Lihat saja di TV dan media lainya, hampir setiap hari ada saja berita tentang ibu menjual anaknya, menelantarkan anaknya dan bahkan ada yang tega membunuh anak kandungnya sendiri. Ada pula kisah Ibu tiri yang kejam. Ada selebritis yang menghianati cinta suci suaminya. Ada Ibu-ibu yang punya pria idaman lain (PIL), menjadi wanita simpanan, menjalin hubungan gelap dan cinta terlarang dengan pria yang bukan muhrimnya. Ada yang bekerja menghiasi indahnya dunia gemerlapan (dugem) malam sehingga membuat malam dan kaum laki-laki semakin lupa pulang kerumah dan menjadi tidak karuan. Ada lagi yang menjadi  pelaris iklan gosip yang membuat kaum ibu menjadi tidak tentram. Apakah sosok perempuan dalam film Wonder Women yang dijadikan ilustrasi bagi PBB dalam menetapkan Hari Ibu ?” tanya Anak Saya

Dengan tenang dan seloroh Saya menjawab pertanyaan yang menurut Saya rada-rada ngawur itu dengan ngawur juga. Saya membakar sebatang rokok lalu berkata, ”Siti Hawa lah yang menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia ini dalam menetapkan hari Ibu. Lalu kenapa PBB tidak menetapkan Hari Hawa saja atau ”Hawa Day”, karena tidak ada satu manusiapun yang tahu tanggal berapa Hawa menjadi seorang Ibu (mendapat anak pertama). Kemudian kenapa bukan Elizabeth, Indra Gandhi atau Bunda Teressa dan lain sebagainya yang dijadikan inspirasi, karena PBB tidak menginginkan terjadinya Perang Dunia ke III. Coba banyangkan bila setiap negara anggota PBB mengusulkan satu nama tokoh wanita  yang berasal dari negaranya dijadikan inspirasi bagi penetapan hari Ibu, tentu banyak nama yang akan di bahas pada sidang PBB itu. Bila Sekjen PBB tidak cermat mengendalikan aspirasi masing-masing delegasi yang berasal dari ratusan negara yang ada di dunia ini, dikhawatirkan dapat memicu terjadinya konflik antarnegara atau konflik antara blok barat dan timur. Bila itu terjadi maka Perang Dunia ke III pun tidak dapat dielakkan lagi dan pecah hanya gara-gara wanita. Capek deh,…..”

Anak Sya langsung membantahnya dan berkata, ”Tidak jugalah. Buktinya di Indonesia sendiri ada Hari Kartini tapi tidak sampai menimbulkan konflik antar etnis karena tidak ada Hari Cut Nyadien atau Hari Engku Puteri dan lain sebagainya ?”. Lalu saya tersenyum dan cukup menjawab di dalam hati saja. ”Tak nyambung”. Anak Saya terus mendesak agar saya mengomentari pernyataannya barusan tadi. Saya pun menjelaskan, dan begini kata saya, ”Hari Kartini itu tujuannya bukan untuk menonjolkan egoisme kaum perempuan yang berasal dari salah satu suku atau etnis. Meskipun Kartini sesungguhnya merupakan orang Jawa dan Kita tahu di daerah lain termasuk Kepri ini juga banyak tokoh wanita yang berperan positif bagi kaumnya. Kartini diperingati hanya untuk mengenang kembali jasa-jasanya dalam memperjuangkang emansipasi wanita. Bila ada Kartini lain yang memiliki kesamaan nilai-nilai, maka tidak perlu lagi ada hari Kartini lain. Justru itu dapat memunculkan egoisme dan ego sektoral dikalangan kaum perempuan saja. Cukuplah satu Kartini saja kita peringati. Kalau terlalu banyak, nanti kaum perempuan juga yang susah. Satu hari Kartini saja masih banyak kaum perempuan yang enggan memperingatinya dan bahkan tidak tahu tanggalnya. Apalagi harus memperingati hari wanita yang jumlahnya banyak ? Pejabat perempuan dan Instansi Pemerintah seperti Menteri/Gubernur/Bupati/Walikota, Anggota DPR/DPD/DRPD dan Badan  Pemberdayaan Perempauan yang punya duit saja masih ada yang enggan membuat kegiatan untuk memperingatai Hari Kartini di bumi pertiwi ini. Apalagi kalau sampai ada hari nenek dan hari Osi (nama akrab anak saya) dan lain-lain lagi. Capek deh.. Hari ulang tahun Osi saja Mamah jarang rayakan karena Osi masih sering minta kado”. Saya sengaja membuat suasana  dan tanya jawab itu semakin menjadi tidak karuan dan tidak nyambung.

Anak saya kelihatan sedikit geram dan tak mau kalah argumentasi. Ia lalu bertanya lagi, ”Emangnya ahli waris almarhumah Kartini ada yang minta-minta kado setiap tanggal 21 April ?” Saya kemudian tidak dapat lagi menahan tawa dan lalu berkata, ”Sedangkan tidak minta kado saja jarang diperingati, apalagi harus kasi-kasi kado ? Memangnya hari ulang tahun Kartini pakai kado segala ? Sudahlah, nanti Osi akan tahu juga, siapa seorang Kartini itu”. Saya segera mengakhiri celoteh dan senda gurau itu.

Perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, terutama terhadap kaum perempuan. Kultur patriaki yang mempengaruhi pola pikir masyarakat telah menimbulkan berbagai bentuk ketimpangan gender. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan seperti marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi anggapan wanita tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotip atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja yang panjang dan banyak lagi ideologi peran gender yang tengah disosialisasikan. Hal itu bertujuan untuk membangkitkan nilai-nilai dan peran positif serta keadilan gender perempuan. Itulah dulu yang telah dilakukan seorang Kartini.

Di zaman hidupnya Kartini, kesetaraan gender perempuan menjadi tinta emas yang Ia perjuangkan lewat penanya. Belenggu penjajahan oleh bangsa Belanda dan ketertindasan peran oleh kaum laki-laki dari bangsanya sendiri tidak membuat Kartini takut menorehkan tinta emas itu mengalir sempurna dan memantulkan cahaya keadilan gender bagi kaumnya. Berkat ketabahan dan perjuangannya yang gigih itu, akhirnya ”Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini telah meletakan landasan kesetaraan gender kaum perempuan di bidang pendidikan. Kartini adalah Ibu pertiwi yang mengantarkan kaum perempuan dan anak-anak yang dilahirkannya menuju kepada kesetaraan gender.  Lewat pemberantasan kebodohan dalam budaya patriarki, himpitan ekonomi yang selama ini digantungkan pada kaum laki-laki bisa teratasi. Ada yang telah keluar dari kemelut dan fenomena itu tetapi ada juga yang masih terpuruk dalam situasi yang dilematis. Entahlah seberapa besar intesitasnya, setidaknya kesetaraan gender kaum perempuan itu akan menjadi renungan pada setiap peringatan hari Kartini. Kaum perempuan harus terus berjuang menegakkan keadilan gender perempuan supaya menjadi terang benderang.

Seperti kesetaraan gender perempuan di bidang politik di Kepri yang sudah memperlihat gambaran yang cukup baik dan bisa diacungkan jempol. Meskipun indikator peran perempuan di bidang politik belum memenuhi amanat undang-undang yang secara kwantitatif harus memenuhi 30 persen kursi di Parlemen, tetapi kwalitas kaum perempuan telah teruji dan mampu menduduki posisi puncak dan strategis di bidang politik. Jabatan politis sebagai Walikota Tanjungpinang dijabat oleh kaum perempuan. Ada pula jabatan sebagai Anggota DPD dan DPRD. Sosok perempuan sudah menunjukan kepada kaumnya sendiri bahwa perempuan tidak mau ketinggalan dalam pertarungan politik memperebutkan posisi Gubernur Kepulauan Riau pada tanggal 26 Mei 2010 mendatang. Itu semua merupakan bukti bahwa emansipasi wanita telah menembus level yang tinggi. Kedepan dan seterusnya, semangat perjuangan Kartini harus dapat diimplemenntasikan kaum perempuan untuk berperan dalam segala bidang, bersaing dan berada setara dengan kaum laki-laki. Bukan saja pada bidang pendidikan dan politik, tetapi juga pada bidang-bidang lainnya.

Menghayati dan mengimplemantasikan nilai-nilai perjuangan Kartini dalam setiap sendi kehidupan tidak berarti menjadikan seorang perempuan harus sama seperti Kartini sejati yang hidup di zamannya. Kartini hari ini tidak harus sama seperti Kartini sejati yang menggunakan kebaya dan ada sanggul di rambutnya. Kartini hari ini juga tidak harus sebatas di potret, lalu diberi bingkai dan dipajang dimana-mana. Bila itu yang terjadi, maka hanya poto-poto Kartini baru saja yang lahir dan tersenyum dibanyak tempat, sedangkan pemikiran dan perilakunya yang tulus dalam memperjuangkan keadilan gender nyaris tidak kelihatan karena berada dibalik bingkai dan terhimpit tembok yang tebal. Senyuman manis Kartini baru harus mampu merubah keadaan yang dirasakan kaum perempuan hari ini menjadi lebih berarti. Seperti Kartini sejati yang lebih menonjolkan pemikirannya yang positif terhadap kaum perempuan. Disamping juga kerja keras dan semangat pantang menyerah untuk selalu mengangkat derajat kaumnya dalam segala bidang. Tidak saja sekedar sebatas senyum di figura, berkebaya, bersanggul, cengar cengir dan berpose ria.

Kartini hari ini jangan lagi sekedar menjadi Kartini figura. Kartini hari ini harus memiliki pemikiran dan perilaku yang tulus dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Tidak harus selalu tersenyum, mengenakan kebaya dan tidak pula harus berpose terbuka menampakan dada. Kartini hari ini harus memiliki kecerdesan dan keberanian menentang berbagai bentuk perilaku kekerasan dan ketidakadilan gender terhadap kaum perempuan. Bukan justru membuat kaumnya menjadi semakin tidak berdaya seperti menjadi germo dan bahkan ikut secara langsung dalam sindikat perdagangan orang dan perempuan. Atau hanya sekedar berpenampilan menarik, berkebaya,  bersanggul, berdandan ala peragawati di salon kecantikan mewah, memakai parfum, perhiasan dan aksesoris kecantikan buatan luar negeri dan gonta ganti mobil, tetapi pada kenyataannya Ia lupa bahwa semua yang didapat dan digunakan itu dari hasil penggelapan pajak, korupsi dan aksi markus suaminya. Kartini hari ini harus mampu menggiring dirinya sendiri dan para suaminya tidak hidup diatas penderitaan orang lain. Keadilan gender perempuan tidak diartikan melakukan ketidakadilan sosial dan ekonomi dengan dalil emansipasi dan peran sebagai istri pejabat. Kartini hari ini harus dapat hidup bersahaja demi pemerataan sosial dan ekonomi kaumnya agar tidak lagi tertindas budaya patriarki, postmodern dan kemiskinan.

Lebih mulia menjadi seorang wanita tukang sapu jalan yang bisa mengaktualisasikan nilai-nilai Kartini sejati bagi banyak orang daripada menjadi Kartini figura yang hanya mampu dipajang didinding. Lihatlah, tanpa mengenal lelah dan rasa malu, wanita tukang sapu jalan itu menyapu sampah dan kotoran yang berserakan di jalanan setiap hari menyongsong pagi. Bukan saja demi sesuap nasi, tetapi juga demi kebersihan lingkungan yang sangat berharga bagi kesehatan masyarakat. Dan yang tak kalah penting adalah Piala Adipura yang dipertaruhkan Kotanya di hadapan Presiden dan Ibu Negara.

Peran wanita-wanita itu sungguh membanggakan banyak pihak. Tak heran bila banyak senyuman ditujukan kepada mereka meskipun mereka sendiri tidak mampu banyak tersenyum karena penghasilan yang mereka terima tak sebanding dengan senyuman yang mereka dapatkan. Penghasilan yang mereka dapatkan tidak cukup untuk menyewa kebaya, konde, berdandan dan berpose di depan kamera. Mereka menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki tidak bisa mewujudkan banyak keingninan. Mereka ingin mengganti figura yang terpajang di dinding rumahnya itu dengan tampilan yang lebih menarik dan kelihatan feminim. Mereka juga ingin wajah dan Piala Adipura yang ada di dalam photo itu terlihat lebih besar. Diphoto satu persatu sembari menggenggam Adipura yang ditempelkan di dada. Mereka ingin menukar kaos oblong berwarna kuning yang sudah bertahi lalat itu dengan kebaya berwarna merah jingga. Mereka ingin tersenyum lepas dan melepaskan beban ekonomi keluarga, agar suatu saat nanti anak perempuan mereka bisa menjadikan seorang Walikota dan Kartini sejati.

Banyak hal yang bisa dilakukan agar tidak menjadi Kartini figura di era persaingan global  ini. Sekelumit contoh diatas merupakan potret nyata peran kaum perempuan. Terlepas setuju atau tidak yang jelas Kartini hari ini ada yang menjadi Kartini sejati dan ada pula yang hanya menjadi Kartini figura. Apapun istilahnya, Kartini pada level elit hendaknya tidak hanya sebatas menjadi Kartini figura saja dan Kartini pada level bawah tidak menjadi seperti sebait kalimat yang diungkapkan anak Saya diatas, ”… Ibu menjual anaknya, menelantarkan anaknya bahkan ada yang tega membunuh anak kandungnya sendiri.” Apapun alasannya, ketidakadilan gender perempuan baik yang disebabkan oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan itu sendiri tidak dapat dibenarkan. Seandainya Kartini masih hidup tentu Ia akan menangis melihat kaumnya melakukan perbuatan terlarang itu.

Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah agar kaum perempuan dapat meneruskan nilai-nilai dan semangat juang Kartini adalah melalui pendekatan struktural dengan membentuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Badan/Kantor/Dinas atau unit-unit kerja Pemberdayaan Perempuan di setiap Pemerintah Daerah. Tidak saja itu, melalui pendekatan kultural, Pemerintah telah menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai salah satu prioritas pembangunan untuk meningkat Indeks Pembangunan Manusia. Pendidikan wajib belajar 9 tahun dan program kesehatan dasar untuk mengurangi tingkat kematian ibu dan anak semakin terus digiatkan. Ini bertujuan untuk merubah kultur patriarki dan pandangan streotip yang ada di masyarakat yang selama ini menjadikan kaum perempuan dan anak-anak berada dibawah ketidakberdayaan laki-laki. Melalui pendidikan dan jaminan kesehatan bagi keluarga miskin dan keluarga yang kurang mampu maka, kasus-kasus seperti trafiking, perdagangan anak, penelantaran terhadap anak, anak jalanan, gelandangan dan lain sebagainya dapat diminimalisir. Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja dan UKM serta dinas terkait lainnya secara terintegrasi, terus berupaya agar kaum perempuan dapat bersaing setara dengan kaum laki-laki.

Peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan oleh isntansi pemerintah tahun ini diharapkan tidak hanya sekedar mencetak Kartini Kartini figura yang akan dipajang pada Gallery Photo di setiap media cetak saja. Peringatan Hari Kartini tahun ini hendaknya tidak saja berimbas pada naiknya pendapatan usaha photo grafer, salon kecantikan, Fee pemegang kas dan pengguna anggaran Badan Pemberdayaan Perempuan saja, melainkan dapat pula memberikan kontribusi bagi Kartini sejati lainnya. Salah satunya Kartini sejati yang bekerja sebagai penyapu jalanan.



About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on April 16, 2010, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: