PINDAH SUKU


PERTAHANKAN SUKU MELAYU

PINDAH SUKU

Hallo,… Ketemu lagi sama Adek di Kolom Celoteh.
Kali ini Adek copy tulisan Papah yang berjudul “PINDAH SUKU” dan seperti biasa, Adek Paste dan posting ke Blog ini. Mengenai isinya diluar tanggungjawab Adek. Soalnya, Adek benar-benar tidak mengerti apa yang Papah manksudkan. Berita yang pernah Adek saksikan di TV cuma pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah tempat tidur, pindah kerja, pindah agama, pindah penjara, pindah istri dan pindah-pindah Partai Politik. Tapi kali ini Papah justru menulis Pindah Suku. Terserah papah lah yang penting Papah tidak pindah istri apalagi pindah agama. Soalnya orang-orang dewasa sekarang ini lagi sibuk diskusi tentang Korupsi, kawin sirih dan Terorisme. Adek jadi seram dan takut juga ni. Papah itu memang suka lain dari kebanyakan orang-orang yang sama cara berpikirnya. Okelah kalo begitu,…

Papah Adek menulis seperti ini :
”Suatu ketika, Aku bertemu dan berbincang-bincang dengan kepala suku Melayu yang bergelar Datok Bandar. Di sudut kedai kopi Kami bercerita dan tertawa lepas tak kendali. Awalnya kami girang bercerita tentang keunikan dan kemolekan kaum hawa. Lalu Datok Bandar bercerita tentang peran dan status perempuan, baik peran domestik maupun peran perempuan di luar rumah. Banyak sanjungan dan pujian terhadap kaum hawa itu. Aku menjadi merasa Datok Bandar terlalu berlebihan menyanjungi kaum hawa. Meskipun demikian tidak bisa Aku nafikan bahwa kaum hawa memainkan peran yang cukup signifikan bagi keberhasilan kaum Adam. Ada ungkapan, ”Surga itu di telapak kaki Ibu”.
Ungkapan itu sebenarnya lebih pas buat Adek, iya nggak.. ? Soalnya Adek sayang buaaaaanget sama Mamah. Papah Adek itu memang suka ngopi dan ngobrol sama kawan-kawannya. Semboyan hidup Papah itu barangkali, ”Tiada hari tanpa ngopi dan merokok”.
”Adek jugalah. Tiada hari tanpa Jajan. Tiada hari tanpa bermain game dan nonton film cartoon”.
Semboyan hidup Adek, ”Bhineka Tunggal Ika”. Kata Ibu guru, semboyan hidup bangsa Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika. Ada Jawa, Melayu, Minang, Batak, Sunda, Betawai, Aceh, Bugis, Boyan, Bali dan lain sebagainya. Papah tu Sok tahu he…
”Kalo begitu, Papah pindah suku ajalah”.
Emang Adek pikirin. Terserah Papah lah. Hmm…. Okelah Kalo begitu.

”Aku bisa memahami apa yang dimaksudkan Datok Bandar tentang peran kaum hawa itu. Aku tak mau sok intelektual di ruangan yang tidak formal. Aku hanya tersenyum mengimbangi Datok Bandar agar Ia dapat terus tertawa sumringah. Benar, wajahnya terlihat semakin ceria, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Sudah lebih dari setengah abad jantungnya bergerak dan nafasnya menghirup udara bebas di dunia yang penuh sandiwara ini. Tentu banyak suku bangsa yang Ia ketahui dibanding Aku dan Adek Mboss. Didalam komunitas suku bangsanya sendiri, Ia diberi kehormatan yang luar biasa hingga bergelar Datok Bandar. Ditengah-tengah kemajemukan suku bangsa, Ia selalu tegar menonjolkan entitas diri dan adat istiadat yang mulia. Aku bangga dengan Datok Bandar setelah Aku menerawang jauh dalam, ke hilir jati diri menuju muara hatinya. Aku mencoba terus menyimak rangkaian kalimat yang keluar dari Datok Bandar dengan logika dan estetika. Meski terbata-bata, Aku coba untuk mengambil intisari perkataan Datok Bandar.

Perbincangan kami sudah berlangsung lama. Aku terasa semakin lelah duduk diruangan yang sirkulasi udaranya kurang sempurna itu. Aku mencoba membuat rangkuman untuk mengakhiri topik perbincangan kami. Aku tak sanggup mengungkapkan rangkuman itu lewat kata-kata dan kalimat yang terucap. Aku merasa belum begitu bermanfaat. Cukup di dalam hati saja bahwa kesetaraan Gender perlahan-lahan telah mengantarkan peran dan status kaum hawa berada pada posisi yang sejajar dengan kaum Adam. Perampasan peran dan status kaum hawa disegala bidang harus diraih kembali. Sejuta penghargaan diberikan terhadap kaum hawa. Sudah banyak diskusi, seminar dan work shop di gelar untuk memperkokoh kesetaraan gender. Hari ini, kaum hawa sudah semakin banyak yang berkerja di luar rumah. Bukan saja bekerja di depan kamera, diatas pentas dan panggung hiburan, menjadi guru, PNS, TNI/POLRI, swasta, menjadi artis, model dan Icon kecantikan, tetapi perempuan sudah semakin banyak yang berani beraksi diatas panggung politik. Perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan kembali hak-hak politiknya agar setara dengan kaum Adam semakin tidak terbendung.

Iya,… maksud Datok Bandar memang mengarah kepada Peran Politik Perempuan. Maklumlah, kalau tidak ada aral melintang sebentar lagi KPU Kepri akan menyelenggarakan Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau periode 2010 – 2015.

Apa hubungannya dengan pindah suku ? Apalah Papah ni, tak nyambooooong. Judul lain, isi lain.
”Ya Iyalah. Masak langsung tersambung. Harus tahu dulu dong nomor HP yang akan disambung, pulsa harus cukup dan HP penghubung dengan yang akan disambung harus aktif kedua-duanya. Kalau tidak, ya mana bisa nyambung. Kan baru kulitnya”.
Terus, isinya mana ? Makanya sabar. Jadi anak kecil itu harus sabar.
Okelah kalo begitu. Adek tidak mau copy paste lagilah capek. Papah langsung aja tulis. Mau isinya atau bijinya, terserah Papahlah.

”Ayah ku dilahirkan di Tambelan puluhan tahun yang lalu. Kedua orang tuanya (kakek dan nenek) juga berasal dari pulau yang sama, masuk dalam wilayah Kabupaten Bintan. Ibu ku dilahirkan di Tanjungpinang. Kedua orang tuanya (kakek dan nenek) juga berasal dari Bintan. Kemudian Aku dilahirkan di Tanjungpinang. Sejak kecil Aku dan enam saudara kandungku selalu menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Ibu kami di rumah atau di tempat-tempat lain. Keluarga besar kami hingga saat ini masih tetap memeluk agama Islam. Alhamulillah. Tidak ada satupun diantara mereka yang berpindah agama lain. Simbol-simbol melayu masih tetap melekat di hati Kami. Makanan khas melayu, lagu Melayu, Tarian Melayu dan celoteh-celoteh ala orang Melayu sangat kami sukai. Kami tidak pernah ”berkiblat” ke negeri jiran Malaysia untuk mempertahankan nilai-nilai warisan budaya Melayu. Kami merasa, orang tua dan datok nenek kami tidak berasal dari sana dan tidak ada warisan nilai-nilai budaya Melayu yang diwariskan untuk diambil disana.

Jika dilihat dari garis keturunan, maka sudah tidak diragukan lagi bahwa Aku adalah orang Melayu. Namun sayang, pengakuan formal atau legitimasi dari Pemerintah Daerah di Kepri ini belum aku kantongi. Tidak ada satupun dokumen kependudukan yang aku miliki saat ini mencantumkan suku Melayu. Mulai dari Akte Kelahiran, Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Dokumen atau identitas resmi seperti SIM dan lain-lain juga tidak Aku temukan kata-kata bertuliskan Suku Melayu.
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Datok Bandar., kemana legitimasi itu dapat aku peroleh ? Adakah lembaga resmi milik Pemerintah Daerah bisa menerbitkan ”Surat Keterangan Suku” seseorang ? Tetapi Datok Bandar tidak bisa menjawab dan kelihatan sedikit bingung.
Bersambng…………….

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 14, 2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: