Sang Penyentil Pemangku Kebijakan


  KERING: Kherjuli turun ke salah satu waduk yang kering di Pulau Bintan. f-zulfikar/TANJUNGPINANG POS

Kherjuli Penggagas Kenduri Air 

Tiap tetesnya adalah nyawa dan hak setiap orang. Itulah kalimat sakti yang acap kali dilontarkan Kherjuli. Dia penggagas kenduri air sekaligus kreator bank air asal Ibu Kota Provinsi Kepri, Kota Tanjungpinang. Ia sering menyentil para pemangku kebijakan di Provinsi Kepri dalam mengelola air, agar dapat memenuhi hajat hidup orang banyak dengan layak. 

Tanjungpinang  – Tak ada asap bila tak ada api. Begitu juga dengan Kherjuli, yang dikenal paling vokal ketika menyuarakan soal air di Provinsi Kepri, khususnya di Kota Tanjungpinang yang merupakan tanah kelahirannya. Read the rest of this entry

BWS Kepri Siap Bangun Waduk


 
DAM: Selat Dompak yang dilintasi oleh jembatan dilihat dari udara. Kawasan ini dinilai sebagai lokasi pembangunan dam estuari. f-adli bara hanani/tanjungpinang pos

Tanjungpinang – Berdasarkan Rencana Tata Ruang Nasional, di Provinsi Kepri ditetapkan beberapa kawasan untuk pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) untuk kawasan FTZ Batam-Bintan-Karimun (BBK). Nyatanya, hanya sebagian kecil yang terealisasi.

Ini membuat warga yang ada di Bintan dan Tanjungpinang selalu kekurangan air bersih. Parahnya lagi, terbatasnya sumber air bersih menjadi alasan investor hingag tak mau berinvestasi di Tanjungpinang dan Bintan. Read the rest of this entry

Perlu Waktu dan Proses Panjang



EKSTAMBANG: Lahan ekstambang di kawasan Dompak, Tanjungpinang. f-zulfikar/tanjungpinang pos

Menyolek Lahan Bauksit Tanjungpinang 

JAUH sebelum PP Nomor 47 tahun 2007 terbit, Kawasan Senggarang dan Dompak sudah menjadi ladang tambang untuk meraup keuntungan. Sembilan tahun pascaaturan itu terbit, hampir seluruh kawasan itu menjadi tak sempurna. Sehingga perlu usaha yang cukup keras, agar kawasan itu dapat kembali jaya seperti dulu. Seperti di saat tambang bauksit masih beroperasi. 

Tanjungpinang – Berdasarkan catatan sejarah, bijih bauksit pertama kali ditemukan di Pulau Bintan pada tahun 1924, dan pihak pertama yang memanfaatkannya adalah perusahaan Belanda, NV Nederlansch Indische Bauxiet Exploitatie Maatschapij (NV NIBEM). Perusahaan dari negara kincir angin itu melakukan penambangan dari tahun 1935 hingga tahun 1942. Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: